BeritaKAWAT DUNIAPOLITIKA

Kesepakatan Damai Kandas! AS Luncurkan Serangan Udara, Iran Bersiap Lakukan Balasan Penuh

KALTENG.CO-Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali membara setelah Pemerintah Iran secara resmi menyatakan bahwa kesepakatan damai sementara dengan Amerika Serikat (AS) telah gugur.

Keputusan ini diambil Teheran menyusul gelombang serangan udara beruntun yang diluncurkan oleh militer Washington ke berbagai wilayah kedaulatan Iran.

Teheran menilai tindakan militer AS tersebut sebagai bentuk agresi terbuka. Konsekuensinya, angkatan bersenjata Iran kini mengklaim memiliki kebebasan penuh untuk melakukan tindakan balasan yang setimpal.

Kronologi Serangan Udara Baru Militer AS

Ketegangan mencapai puncaknya setelah militer AS mengumumkan serangan udara baru pada Rabu malam waktu setempat (15/7/2026). Serangan kilat yang dimulai sekitar pukul 22.30 waktu Iran (19.00 GMT) memicu rentetan ledakan hebat di sejumlah kota penting Iran, termasuk Bandar Abbas, Chabahar, dan Ahvaz.

Sebelumnya, pihak Washington mengonfirmasi bahwa target operasi mereka menyasar fasilitas militer Iran di kawasan pesisir dekat Selat Hormuz serta Pulau Greater Tunb. Tak hanya serangan udara, militer AS dilaporkan telah mengalihkan dua kapal komersial sebagai langkah awal dari blokade baru terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (16/7/2026), negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pasukannya tidak akan tinggal diam. Serangan AS pada hari Rabu kemarin dilaporkan telah menewaskan tujuh personel militer Iran dari Brigade ke-388 di sebuah barak yang berlokasi di Bampour, wilayah tenggara Iran.

“Angkatan bersenjata Iran kini memiliki kebebasan penuh untuk bertindak menghadapi agresi musuh,” tegas Ghalibaf.

Selain korban jiwa di barak militer, media lokal Iran juga melaporkan bahwa rudal AS menghantam fasilitas penyimpanan gandum di Provinsi Khuzestan bagian barat. Meski demikian, pihak militer AS membantah keras tuduhan yang menyebut mereka menargetkan infrastruktur sipil tersebut.

Iran: Nota Kesepakatan Juni 2026 Tidak Berlaku Lagi

Bagi Teheran, agresi terbaru ini otomatis membatalkan nota kesepahaman gencatan senjata sementara yang baru saja disepakati kedua negara pada 17 Juni lalu. Pemerintah Iran menganggap konflik ini bukan lagi sekadar gesekan biasa, melainkan telah bergeser menjadi perang eksistensial yang menyangkut keberlangsungan negara.

“Kami kini berada dalam perang esensial dan eksistensial dengan Amerika. Kami tidak pernah menyambut perang, tetapi kami harus selalu siap menghadapi pertempuran dan berdiri teguh untuk melindungi keamanan serta kepentingan nasional kami,” tambah Ghalibaf.

Senada dengan Ghalibaf, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Teheran hanya akan mematuhi komitmen selama pihak lawan juga memenuhi janji mereka. Saat ini, Iran memilih fokus pada lini pertahanan negara dan belum memiliki rencana untuk melanjutkan perundingan dengan Washington.

Koresponden Al Jazeera di Teheran, Resul Serdar, menganalisis bahwa eskalasi bersenjata ini membuat peluang kedua negara untuk kembali ke meja perundingan menjadi “sangat sulit”. Situasi di lapangan kini telah berubah menjadi konflik intensitas rendah yang diperparah oleh pemberlakuan kembali sanksi ekonomi serta blokade wilayah oleh AS.

Konflik Meluas: Serangan ke Pangkalan AS di Negara Teluk

Sebagai bentuk respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung meningkatkan tensi serangan ke kawasan Teluk. IRGC mengeklaim telah menargetkan posisi Armada Kelima AS di Bahrain serta pusat logistik militer AS di Mina Abdullah, Kuwait, yang mereka sebut sebagai “respons menghancurkan.”

Eskalasi ini memaksa negara-negara tetangga mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka:

  • Kuwait: Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan berhasil menembak jatuh sedikitnya 4 rudal jelajah dan 21 drone asal Iran sepanjang hari Rabu.

  • Yordania: Militer Yordania mengonfirmasi keberhasilan menjatuhkan 3 rudal yang melintasi wilayah udara mereka dari arah Iran.

Tindakan agresif Iran ini menuai kecaman keras dari Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Al-Budaiwi. Ia menilai langkah Teheran berisiko menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam jurang kekacauan dan ketidakstabilan yang lebih parah.

Donald Trump Desak Teheran Kembali Bernegosiasi

Dari Washington, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada para pemimpin Iran. Trump mengancam akan memperluas target serangan ke infrastruktur vital Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik, jika mereka menolak kembali ke meja perundingan.

Ketika ditanya oleh awak media mengenai batas waktu atau tenggat bagi Teheran, Trump memilih untuk tidak memberikan tanggal pasti.

“Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka cukup mengetahui situasinya. Mereka tahu ceritanya. Mereka harus bersikap baik,” ujar Trump.

Meskipun situasi di ambang perang terbuka, pihak Iran tampaknya masih mencoba menyeimbangkan kekuatan militer dan opsi diplomasi. Ghalibaf mengindikasikan bahwa pintu negosiasi tidak sepenuhnya tertutup rapat, dengan syarat mutlak: Amerika Serikat harus kembali mematuhi dan menjalankan isi kesepakatan yang telah mereka langgar. (*/tur)

Related Articles

Back to top button