Ketegangan Memuncak! Iran Nyatakan Negosiasi Nuklir Mati Pasca Agresi Israel

KALTENG.CO-Dunia kembali di ambang krisis besar. Hubungan antara Iran dan Israel memanas ke titik didih, dan imbasnya, negosiasi nuklir antara Teheran dan Amerika Serikat kini dinyatakan tidak lagi relevan.
Keputusan drastis ini datang menyusul gelombang serangan brutal yang dilancarkan Israel sejak Jumat dini hari (13/6/2025) lalu.
Amarah Teheran: Diplomasi Terkoyak Serangan Israel
Dalam konferensi pers di Jakarta, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tak bisa menyembunyikan kegelisahan dan amarah negaranya. Agresi militer Israel yang menghantam Iran dianggap telah menghancurkan harapan terakhir dunia akan diplomasi damai.
“Bagaimana mungkin kami melanjutkan negosiasi ketika darah rakyat kami masih mengalir? Ini tidak rasional!” tegas Boroujerdi lantang, menyiratkan betapa dalamnya luka yang diakibatkan serangan tersebut.
Sejatinya, negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington berada dalam fase krusial. Harapannya adalah tercapainya kesepakatan untuk membatasi program nuklir Iran demi pencabutan sanksi internasional. Namun, serangan udara Israel yang merenggut nyawa warga sipil, perempuan, dan anak-anak, telah membakar habis seluruh prospek perundingan tersebut. Iran murka.
Pelanggaran Hukum Internasional dan Balasan Tegas Iran
Boroujerdi menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Ia menegaskan bahwa ini bukan hanya serangan terhadap Iran, melainkan juga terhadap seluruh sistem hukum internasional dan arsitektur perdamaian dunia.
“Dewan Keamanan PBB tak bisa lagi duduk diam. Dunia harus bertindak!” katanya dengan ekspresi tegas, menyerukan komunitas internasional untuk tidak berpangku tangan.
Sebagai balasan, Iran tidak tinggal diam. Serangan rudal presisi diluncurkan ke berbagai titik vital di Israel, termasuk pusat intelijen dan ekonomi. Boroujerdi mengungkapkan bahwa semua aksi balasan disusun secara proporsional, mengacu pada target yang dihantam oleh militer Israel.
“Jika mereka menyerang situs militer kami, kami membalas ke situs militer mereka. Jika mereka menyasar sektor ekonomi kami, maka fasilitas ekonomi mereka juga menjadi sasaran,” ujarnya, menekankan prinsip timbal balik dalam respons Iran.
Dalih Israel vs. Realitas Agresi Sebelah Pihak
Israel berdalih bahwa tindakannya bersifat preventif terhadap ancaman langsung dari Iran. Namun, bagi Teheran, narasi itu hanyalah dalih murahan untuk membenarkan aksi barbar yang melanggar prinsip larangan penggunaan kekerasan sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB.
“Mereka menyebut ini pertahanan diri, padahal jelas-jelas ini agresi sepihak terhadap komandan kami yang sedang tidak bertugas. Ini serangan licik, dilakukan saat kami tengah duduk di meja negosiasi. Dunia harus melihat siapa sebenarnya pihak yang memprovokasi kehancuran,” tegas Boroujerdi.
Masa Depan Timur Tengah di Ujung Tanduk
Dengan posisi negosiasi nuklir yang nyaris kolaps dan konflik bersenjata yang terus mendidih, kawasan Timur Tengah kembali terancam terbakar lebih luas. Iran telah memberi isyarat jelas: diplomasi telah mati, dan perlawanan adalah satu-satunya jalan yang tersisa.
Kini, bola panas ada di tangan komunitas internasional. Akankah PBB bertindak tegas, ataukah akan membiarkan sejarah kembali mencatat babak baru kehancuran global di wilayah yang selalu bergejolak ini? (*/tur)




