
Sebab, yang dia tahu, terapi untuknya hanyalah hemodialisa alias cuci darah atau transplantasi ginjal. Dokter Astried pun mengatakan agar suami Risa, yaitu Lutfi, nanti ke ruangannya untuk dijelaskan apa itu CAPD. Lutfi yang datang ke ruangan dokter Astried dengan seribu tanya, mendapat penjelasan.
Dijelaskan dokter Astried, kalau CAPD lebih baik dibanding cuci darah. “Nah, saya ingat kalau cuci darah, istri saya sengsara banget. Awalnya istri takut kalau CAPD karena ada selang di perut. Tapi saya yakin CAPD bisa bagus buat dia,” cerita Lutfi.
Butuh empat hari bagi Lutfi untuk membujuk istrinya. Hingga, 9 Desember 2019, Risa akhirnya mau dioperasi untuk pemasangan CAPD. Setelah memasang CAPD, Risa merasa lebih baik. Meski harus telaten mengganti cairan empat kali sehari, tapi itu sudah biasa dan manfaatnya jauh lebih baik dibanding ketika dia cuci darah.
“Jauh beda terasa. Kalau cuci darah itu sesak napas, panas dingin, dan bengkak. Kalau CAPD ini, manfaatnya di tubuh aku baik banget. Badan normal. Saya beraktivitas seperti biasa. Konsumsi air putih bisa normal. CAPD bisa sampai minum 1.000 ml (milliliter),” terangnya.



