BeritaPulang Pisau

Luas Lahan Gambut Berkurang

PULANG PISAU,kalteng.co-Asisten II Sekda Pulang Pisau, Hanafi mengungkapkan, luas lahan gambut di Kalteng mencapai 3.010.640 hektare.


“Tetapi berdasarkan data Global Wetlands yang diakses 16 April 2019, luas lahan gambut telah berkurang menjadi 2,7 juta hektare,” kata Hanafi saat menyampaikan sambutan Plt Bupati Pulang Pisau Pudjirutaty Narang pada pembukaan FGD konservasi kehati ekosistem gambut dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat yang digelar KLHK RI, Rabu (25/11).


Menurut dia, kondisi tersebut dikhawatirkan tidak mampu lagi memerankan fungsi ekologisnya secara optimal. Hal ini, ungkap dia, ditandai adanya kerusakan lahan gambut yang diakibatkan kebakaran pada setiap musim kemarau.


“Begitu juga saat musim hujan terjadi banjir dan masih ada kegiatan pembalakan liar,” ungkap dia.


Kondisi tersebut, beber Hanafi, mengakibatkan terganggunya keseimbangan fungsi ekologis dan berdampak pada berkurangnya atau hilangnya keanekaragaman hayati berupa flora fauna, perubahan iklim dan tata air, serta menurunnya kesejahteraan masyarakat, sebagai akibat lahan usaha terganggu.


Dia menambahkan, sebagaimana diketahui bersama, gambut merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai nilai penting secara ekologi maupun ekonomi. Lahan gambut merupakan lahan yang secara alami sering tergenang berupa rawa, sehingga sering disebut rawa gambut.


“Lahan rawa gambut ini salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi hidrologi dan fungsi lingkungan lain yang penting bagi kehidupan dan penghidupan manusia, serta mahluk hidup lainnya,” tegas Hanafi.


Sementara itu, Peneliti Litbang KLHK Prof Dr Raden Garsetiasih mengungkapkan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pihaknya untuk jenis flora dan fauna terdapat jenis flora yang memang berpotensi ada, tetapi sebagian besar sudah berkurang.


“Yakni jenis Ramin dan Jelutung,” kata Garsetiasih saat dikonfirmasi wartawan.
Untuk satwa jenis burung, lanjut dia, menemukan sekitar 50 jenis burung.
“Setelah kami analisa, keragamannya masuk kategori sedang,” ungkap dia.
Sedangkan untuk jenis-jenis herpetofauna dan mamalia termasuk rendah.


“Itu perlu dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan selanjutnya,” jelas dia.
Dia menambahkan, tujuan FGD untuk melakukan strategi, selain dengan data dari yang didapat pihaknya dengan jenis flora dan fauna ada beberapa jenis masih tinggi ada juga yang rendah.
“Setrateginya nanti melalui restorasi,” ucapnya.


Termasuk di kawasan koridor, restorasi harus dengan jenis-jenis yang dimakan satwa liar. (art)

Related Articles

Back to top button