AKHIR PEKANBeritaHOBIPalangka Raya

Muhammad Sani dan Alya, Pasutri yang Memelihara Ball Python


“Ular jenis ini sangat cocok untuk dipelihara. Sudah jinak dari asalnya,” ujar pemuda berusia 32 tahun ini kepada Kalteng Pos saat ditemui di rumahnya Jalan Jati, Palangka Raya, beberapa waktu lalu.
Selain tidak berbahaya, perawatannya juga sangat mudah. Diberi makan tikus putih seminggu sekali.Untuk buang air besar, juga seminggu sekali. Sehingga, tidak harus membersihkan setiap hari.
Pemilik gelar Master of Business Adiministration dari Jonkoping University Swedia ini menyebut, kebersihan kandang juga menjadi keharusan. Ball python miliknya ditempatkan di box plastik. Ukurannya hampir sama dengan kardus mie instan. Ditempatkan di ruangan yang minim penerangan. Kondisi box wajib kering. Untuk menghindari jamur dan bakteri. “Kebersihan kandang sangat mempengaruhi kesehatannya. Ball python bisa mati jika terkena penyakit yang terbilang sederhana, yakni pilek. Sebut pria yang bekerja di salah satu Bank BUMN ini.


Sani, baru dua tahun terakhir memelihara reptil lagi. Setelah tiga tahun mempersunting istrinya, Alya atau Oktober 2015 silam, baru mendapat restu untuk menyalurkan hobi di masa bujangnya.
Selain ular, ada juga iguana, dan love bird. Juga tikus putih, yang diternak untuk jadi santapan tiga ball python kesayangannya.
Istrinya dan mertua Sani tak membayangkan sebelumnya, jika pekarangan rumahnya ada hewan peliharaan. Pemandangan yang sebelumnya tak pernah terlihat. Diakui Sani, istrinya takut dengan reptil. “Jangankan sama reptil, sama kucing saja, takut,”celetuknya.
“Saya terus meyakinkan istri saya, jika ball python ini baik, gak menjijikkan, dan pembersih,”tambah pemuda asli kelahiran Palembang itu saat meyakinkan istrinya.
Penulis mencoba memegang tubuh ball python yang warnanya putih bercorak kuning emas itu, memang terasa bersih. Tidak berlendir, seperti yang saya bayangkan sebelumnya. “Kurang lebih 40 hari sekali, si ular akan berganti kulit ketika ukuran badannya membesar dari sebelumnya dan kondisi kulitnya sudah mulai kusam (shedding),”sambung Sani.

Sani membeli ball python seharga Rp7 juta. Ukurannya saat itu masih sekepalan tangan orang dewasa. Waktu itu, paket ball python datang di rumah saat dia sedang bekerja. Mertua dan istri yang menerima paketnya. Kagetnya bukan main. Bingung mau diapakan. Baru kali itu mereka melihat ular dalam jarak dekat.
Syukurlah, saat ini sudah tak alergi lagi. Meski di gudang samping rumah juga memelihara tikus putih. Ditambah lagi dengan puluhan burung love bird di kandang yang ocehannya sedikit memberi hiburan.
“Istri saya sekarang sudah berani memegang ular,”ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu sambil melempar senyum ke istrinya yang duduk di sampingnya.
Kini di pasaran, harga jual per ekor jenis ball python miliknya, sudah menyamai harga sepeda motor baru atau sekitar Rp17 juta.
Sani berpesan, bagi yang ingin memelihara reptil atau ular, jangan yang hasil tangkapan liar. Memang, bisa saja awal-awalnya tidak agresif. Tapi, suatu saat tidak menutup kemungkinan sifat atau karakter liar bisa muncul. Bisa membahayakan pemiliknya.(ram)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button