
Kadispora Kalteng Faleri Tuwan mengatakan, penggalangan dana olahraga dengan cara meminta-minta di jalanan adalah hal baru yang terjadi sepanjang sejarah Kalteng. “Hal ini memang tidak lazim. Tadi kami sudah bertemu dengan manajemen tim sepak bola putri Kalteng dan beberapa atletnya. Olahraga adalah kebutuhan pendukung manusia, bukan sebagai kebutuhan dasar manusia,” katanya kepada Kalteng Pos, Rabu (24/2).
Ditegaskan Faleri bahwa olahraga memang bisa memberikan kebanggaan dan mengangkat harkat dan martabat daerah. Namun, sebaliknya jika dilakukan dengan cara yang salah, justru akan memalukan.
“Jangan menyamakan penggalangan dana di pinggir jalan yang biasanya dilakukan untuk tujuan sosial kebutuhan dasar kemanusiaan seperti bantuan pandemi, korban bencana alam dan malapetaka, bencana kelaparan, dan lainnya,” tambahnya.
Perlu diingat, lanjutnya, olahraga hanya sebuah kebutuhan pendukung manusia. Lakukan dan syukuri saja sesuai kemampuan yang ada. Jangan melakukan sesuatu di luar batas kemampuan.
“Oleh karena itu saya minta agar manajemen tim sepak bola putri Kalteng mempertimbangkan kembali langkah penggalangan dana dengan cara meminta-minta di pinggir jalan. Budaya meminta-minta di pinggir jalan bukan budaya orang Dayak. Tolong hargai prinsip di mana bumi di pijak di situ langit di junjung,” tuturnya.



