
KALTENG.CO-Tujuh seri pertama Moto3 2026 menghadirkan gambaran lengkap tentang bagaimana kerasnya perjalanan seorang rookie di level tertinggi balap motor dunia.
Diwarnai catatan sejarah, podium perdana, rekor kecepatan, insiden kecelakaan, hingga persaingan ketat di papan klasemen, nama Veda Ega Pratama terus menjadi sorotan utama.

Pembalap berusia 17 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta ini datang ke Kejuaraan Dunia Moto3 dengan bekal prestasi mentereng dari Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup. Namun, atmosfer persaingan di level Grand Prix terbukti menghadirkan tantangan yang jauh berbeda, menguji konsistensi sekaligus kematangan mental sang pembalap muda.
Debut Manis di Buriram dan Dobrakan Sejarah di GP Brasil
Sejak melakoni debut di GP Thailand pada 1 Maret lalu, Veda langsung membuktikan bahwa dirinya layak berada di grid Moto3. Mengendarai Honda NSF250RW milik Honda Team Asia, ia sukses finis di posisi kelima di Sirkuit Internasional Chang, Buriram.
Hasil ini menjadi salah satu debut terbaik yang pernah dicatatkan oleh seorang pembalap pendatang baru dalam beberapa musim terakhir.
Momentum positif tersebut langsung berlanjut ke GP Brasil. Di sirkuit legendaris tersebut, Veda menorehkan tinta emas yang belum pernah dicapai oleh pembalap Indonesia mana pun sepanjang sejarah.
Catatan Sejarah: Finis di posisi ketiga di GP Brasil menjadikan Veda Ega Pratama sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium di ajang Grand Prix.
Hanya dalam dua seri awal, Veda langsung mengoleksi 27 poin dan sempat melesat ke posisi ketiga klasemen sementara Moto3 2026.
Pasang Surut dan Ujian Mentalitas di Atas Lintasan
Namun, musim perdana di kelas dunia jarang sekali berjalan mulus tanpa hambatan. GP Amerika Serikat di Austin menjadi titik balik sekaligus ujian pertama bagi Veda.
Setelah tampil impresif di sesi kualifikasi dengan mengamankan posisi start keempat, Veda mengalami insiden highside pada lap kelima yang membuatnya gagal finis (Did Not Finish/DNF). Kehilangan peluang meraup poin besar, posisinya di klasemen langsung merosot dari peringkat ketiga ke peringkat tujuh.
Meski demikian, respons yang ditunjukkan Veda pasca-insiden Austin justru memperlihatkan kematangan mentalnya yang mulai terbentuk pesat:
GP Jerez (Spanyol): Start dari posisi belakang (ke-17), Veda tampil kesetanan dengan menyalip 11 pembalap dan menyentuh garis finis di posisi keenam. Di sirkuit ini pula, ia memecahkan rekor kecepatan tertinggi (top speed) Moto3 dengan mencatatkan 222,2 km/jam, melampaui rekor Daniel Holgado dan Adrian Fernandez (221,3 km/jam).
GP Prancis (Le Mans): Menghadapi tantangan balapan basah (wet race) pertamanya musim ini, Veda tampil tenang dan konsisten untuk mengamankan posisi keempat.
GP Catalunya (Spanyol): Terpuruk di kualifikasi akibat dominasi pembalap tuan rumah hingga harus start dari posisi ke-20, Veda kembali melakukan comeback impresif dengan melewati 8 pembalap di lap pertama dan finis di posisi kedelapan.
Drama Mugello dan Peta Persaingan Klasemen Moto3 2026
Mugello, sirkuit yang sempat memberi harapan besar karena Veda pernah menang dua kali di sini saat berkompetisi di Red Bull Rookies Cup, ternyata menyajikan drama tersendiri.
Memulai balapan dari posisi ke-13, pembalap bernomor motor khas ini sempat merangsek ke posisi enam pada lap pertama dan menembus empat besar menjelang akhir lomba. Sayangnya, insiden yang melibatkan Maximo Quiles mengganggu ritme balapnya, memaksa Veda melorot ke posisi tujuh sebelum akhirnya finis di posisi kedelapan.
Berikut adalah posisi klasemen sementara Moto3 2026 setelah balapan sengit di Mugello:
Jarak 66 poin dari Maximo Quiles yang mendominasi dengan 6 kemenangan memang terbilang jauh. Oleh karena itu, fokus Veda kini beralih ke target yang lebih realistis dan tidak kalah bergengsi: Klasemen Perburuan Rookie Terbaik.
Berburu Gelar Rookie Terbaik 2026: Sengit Melawan Rival Lama
Persaingan di kategori pendatang baru menjadi salah satu jalan cerita paling menarik musim ini. Brian Uriarte, rival lama Veda saat masih bertarung sengit di Red Bull Rookies Cup 2025, saat ini memimpin klasemen rookie dengan 67 poin berkat kemenangannya di Mugello.
Veda menguntit tepat di belakangnya, berada di peringkat kedua dengan hanya selisih satu poin saja (66 poin). Sementara itu, pembalap muda Malaysia, Hakim Danish, menguntit di posisi ketiga dengan raihan 43 poin.
Persaingan Klasemen Sementara Rookie Moto3 2026:
Brian Uriarte – 67 Poin
Veda Ega Pratama – 66 Poin
Hakim Danish – 43 Poin
Fondasi Kuat Menuju Sisa Musim
Tujuh seri pertama telah membuktikan satu hal: Veda memang belum mendominasi total seperti Quiles, tetapi ia sukses menancapkan taringnya sebagai salah satu rookie paling kompetitif dan berbahaya di grid Moto3 2026.
Podium bersejarah di Brasil, rekor kecepatan di Jerez, serta konsistensinya untuk terus pulang membawa poin dari posisi start sulit adalah fondasi berharga bagi karier internasionalnya.
Perjalanan musim ini masih sangat panjang. Dengan 13 seri tersisa, segalanya masih mungkin terjadi. Seri-seri mendatang akan menjadi pembuktian apakah pembalap kebanggaan Indonesia ini mampu merebut takhta Rookie of the Year, atau bahkan menembus target besar berikutnya: menembus posisi tiga besar klasemen akhir Moto3 2026.
Satu hal yang pasti, dalam waktu kurang dari setengah musim, “Cah Gunungkidul” ini telah mengubah peta sejarah balap motor Indonesia di panggung dunia. (*/tur)



