Rupiah Diprediksi Fluktuatif hingga Rp17.900, Pengusaha Impor Wajib Waspada!

KALTENG.CO-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren melemah yang cukup signifikan. Berdasarkan pantauan kurs di Google pada Senin (18/5/2026) pukul 11.40 WIB, satu dolar AS kini telah menyentuh angka Rp17.671.
Angka ini terus merosot setelah sebelumnya pada Senin pagi sempat berada di level Rp17.630. Melemahnya mata uang garuda ini dinilai bukan lagi sekadar fluktuasi biasa, melainkan sebuah sinyal peringatan serius bagi perekonomian nasional.
Pasar Berada di Fase Risk-Off: Apa Artinya bagi Indonesia?
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, menilai bahwa pelemahan rupiah kali ini mencerminkan adanya tekanan berat dari sektor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Menurut Rizal, pasar keuangan saat ini sedang berada dalam fase risk-off terhadap negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Di tengah tingginya ketidakpastian global, para investor cenderung menarik modal mereka dari aset berisiko dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven), utamanya dolar AS.
2 Faktor Utama Pemicu Terpuruknya Rupiah
Secara garis besar, INDEF memetakan dua kelompok besar yang menjadi motor penggerak melemahnya nilai tukar rupiah:
1. Faktor Eksternal (Dominan)
Penguatan Dolar AS dan Suku Bunga Global: Kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama di tingkat global membuat dolar AS terus perkasa.
Lonjakan Harga Minyak Dunia: Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut (salah satunya konflik AS-Iran) memicu kenaikan harga energi global. Sebagai negara importir bersih minyak (net importer), Indonesia otomatis membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya menguras cadangan devisa.
2. Faktor Domestik
Kekhawatiran Defisit Fiskal: Pasar mulai cemas terhadap potensi pelebaran defisit anggaran belanja negara.
Kebutuhan Pembiayaan Utang: Tingginya beban utang yang jatuh tempo meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing.
Sentimen Kebijakan Ekonomi: Persepsi dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional ikut meningkatkan premi risiko Indonesia di mata investor luar negeri.
“Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya karena dolar yang sedang kuat, tetapi juga karena premi risiko investasi di Indonesia sendiri ikut meningkat,” papar Rizal.
Intervensi Moneter Saja Tidak Cukup, Butuh Sinergi Fiskal
Bank Indonesia (BI) sebenarnya tidak tinggal diam. Bank sentral telah melakukan berbagai langkah penyelamatan, mulai dari intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga stabilisasi di pasar obligasi.
Namun, Rizal yang juga berprofesi sebagai dosen ini menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya dibebankan pada kebijakan moneter BI semata.
“Pasar saat ini juga menyoroti konsistensi fiskal, kredibilitas kebijakan pemerintah, dan kemampuan negara dalam menjaga kepercayaan investor. Oleh karena itu, penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal (Kementerian Keuangan) dan moneter (Bank Indonesia) mutlak diperlukan agar rupiah tidak terjun lebih dalam,” tambahnya.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Melihat situasi global yang masih membara dan dinamika dalam negeri, rupiah diprediksi masih akan bergerak sangat fluktuatif (volatile) dalam jangka pendek.
INDEF memproyeksikan ruang pergerakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.900 per dolar AS untuk beberapa waktu ke depan. Konsumen dan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor diimbau untuk mulai melakukan langkah mitigasi risiko kurs guna menghindari pembengkakan biaya operasional. (*/tur)



