Seret Nama Ruben Onsu dan Sarwendah, Pesulap Merah Sebut Cerita Fitri Cuma Akting!

KALTENG.CO-Dunia media sosial kembali dihebohkan oleh aksi pembongkaran trik dan kebohongan publik yang dilakukan oleh Marcel Radhival, atau yang lebih dikenal luas sebagai Pesulap Merah. Kali ini, sorotan tajamnya tertuju pada sebuah konten video di kanal YouTube Jejak Backpacker.
Dalam salah satu episode podcast mereka, kanal tersebut menghadirkan seorang perempuan bernama Fitri yang mengaku sebagai mantan asisten artis. Di hadapan kamera, Fitri menceritakan secara detail pengalaman mistis dan praktik pesugihan yang diklaimnya terjadi di dalam kehidupan keluarga artis tempat ia pernah bekerja.
Namun, cerita horor yang sempat membuat publik geger itu kini disebut-sebut tak lebih dari sekadar dongeng belaka demi mengejar angka tayangan (views).
Modus Operandi Konten: Cerita Mirip Kehidupan Artis Agar Cepat Viral
Berdasarkan investigasi dan temuan yang dikumpulkan oleh Pesulap Merah, podcast mistis tersebut diduga kuat hanyalah konten settingan atau rekayasa. Naskah cerita horor itu sengaja dipersiapkan sebelumnya oleh tim kreatif di balik layar.
Marcel Radhival mengungkapkan bahwa alur cerita sengaja direkayasa sedemikian rupa agar mirip dengan kehidupan artis tertentu yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian masyarakat. Tujuannya sangat jelas: memanfaatkan rumor yang sedang hangat agar konten tersebut gampang viral, memancing rasa penasaran netizen, dan mendongkrak algoritma YouTube.
Pesulap Merah pun tidak tinggal diam dan langsung melayangkan sindiran menohok melalui akun media sosialnya:
“Untuk menutupi konten settingan agar tidak terbongkar settingannya, memang perlu cari kambing hitam. Besok-besok gue bayar orang ah buat pura-pura jadi asisten artis yang pesugihan lalu naskah ceritanya gue mirip-miripin sama kehidupan seorang artis biar views-nya ramai dan bisa memperkaya diri tanpa peduli merugikan orang lain atau tidak,” sindir Marcel tajam.
Kesaksian Mantan Narasumber: Dibayar Murah untuk Akting
Untuk memperkuat argumennya, Pesulap Merah mengunggah bukti pernyataan dari seseorang yang mengaku pernah menjadi narasumber langsung di kanal YouTube Jejak Backpacker.
Narasumber tersebut membongkar alasan mengapa pihak pengelola kanal YouTube tampak sangat tertutup mengenai identitas sang mantan asisten artis.
“Aku tahu kenapa Jejak Backpacker tidak mau memberi nomor contact Fitri (terduga mantan asisten artis yang ambil pesugihan di Gunung Kawi). Aku pernah jadi salah satu narsum di podcast Jejak Backpacker,” ungkap akun tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, dalam tangkapan layar komunikasi yang dibagikan oleh admin Pesulap Merah, terkuak bahwa para narasumber yang bersedia diajak melakukan rekayasa cerita horor ini hanya mendapatkan bayaran yang terbilang sangat kecil, yakni berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 300.000 saja per sesi syuting.
Tetangga Pemilik Kanal Angkat Bicara: Sebut Nama Ruben Onsu dan Sarwendah Ikut Terseret
Informasi krusial lain datang dari seseorang yang mengaku sebagai tetangga dan mengenal dekat pemilik kanal YouTube Jejak Backpacker. Melalui pesan singkat kepada Marcel, ia bersumpah bahwa kesaksian tentang pesugihan yang menyeret nama pasangan selebritas Ruben Onsu dan Sarwendah adalah kebohongan total.
“Bang Marcel. Saya selaku tetangga dan orang yang kenal langsung lumayan dekat sama pemilik channel-nya demi Allah bersumpah, itu cerita Fitri gak real. Karena saya pribadi dan beberapa teman pernah ditawarin podcast cuma biar mereka ada konten. Misalnya horor ya nanti mereka yang bikin script horornya,” akunya secara blak-blakan.
Sumber tersebut juga menambahkan bahwa tim produksi kerap membantu mengarahkan improvisasi dialog agar cerita yang disajikan terlihat lebih natural dan mencekam. Ia bahkan berani membeberkan lokasi kantor produksi mereka yang terletak di Komplek Jaka Kencana, Pekayon.
Edukasi Publik: Pesulap Merah Tantang Pemilik Kanal YouTube
Marcel Radhival mengaku sangat geram dengan maraknya fenomena podcast rekayasa semacam ini. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk pembodohan publik yang nyata. Narasi fiktif dikemas seolah-olah sebagai kejadian riil di dunia nyata semata-mata demi meraup keuntungan materi dari adsense tanpa memikirkan dampak psikologis atau nama baik orang lain yang dirugikan.
Dengan tegas, Pesulap Merah menyatakan kasus ini telah benderang dan memberikan tantangan terbuka bagi pemilik kanal yang bersangkutan.
“Case closed, ternyata dibayarnya untuk cerita palsu 150-350 ribu per sekali shooting. Cobalah berani nyebut nama saya, kantor kalian saya samperin dan saya todong langsung untuk jujur,” tegas Marcel Radhival menutup pernyataannya.
Bongkar-membongkar yang dilakukan oleh Pesulap Merah ini menjadi pengingat penting bagi para pengguna internet untuk lebih bijak dan skeptis dalam menyaring informasi.
Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif digital, tidak sedikit kreator yang menghalalkan segala cara—termasuk memproduksi hoaks bermodus mistis—demi meraih popularitas instan. (*/tur)



