Berita

Tangkal Hoaks, Budaya Literasi Digital Harus Digalakkan

Kalteng menduduki peringkat 21 dalam hal aktivitas literasi dan membaca. Perlu ada gebrakan dalam meningkatkan budaya baca di Bumi Tambun Bungai ini. Juga dibutuhkan sosok inspiratif. Selasa (15/9), Perpusnas mengukuhkan Yulistra Ivo Sugianto Sabran sebagai Bunda Literasi Kalteng.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya, kalteng.co

PENCANANGAN gerakan membaca nasional telah dilakukan sejak 12 November 2003 oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri, yakni gerakan nasional Indonesia membaca. Hal itu selaras dengan visi dan misi Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran dan Wakil Gubernur Kalteng Habib Ismail Bin Yahya, yakni mewujudkan Kalteng BERKAH dengan salah satu fokusnya yaitu bidang pendidikan.
Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut diperlukan upaya, yaitu dengan mengajak semua lapisan masyarakat Kalteng untuk membudayakan gemar membaca melalui gerakan Kalteng membaca. Pemprov Kalteng telah ikut berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Oleh karena itu, untuk mendorong pembudayaan Kalteng membaca, diperlukan bunda literasi dan duta baca dari Bumi Tambun Bungai, sebagai role model atau public figure yang akan berperan aktif dalam menyosialisasikan aktivitas membaca dan literasi di Kalteng.
Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran melalui Sekda Kalteng Fahrizal Fitri mengatakan, Kalteng yang sangat luas dan kaya SDA ini wajib dikelola oleh masyarakat untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Caranya dengan mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Soal bagaimana mengelola SDA, metode dan strategi apa yang dilakukan, bagaimana menjaganya, dll.
“Di situlah peran penting ilmu pengetahuan dan informasi akan didapatkan dari sebuah aktivitas membaca dan literasi yang mempunyai peran penting dalam pencapaian pembangunan masyarakat Kalteng,” ungkapnya usai pengukuhan bunda literasi dan duta baca Kalteng sekaligus pengukuhan pokja PAUD Kalteng.
Fahrizal menyebut, melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Kalteng dan didukung Disperpusip kabupaten/kota se-Kalteng serta keterlibatan bunda literasi dan duta baca, dapat memaksimalkan sosialisasi perpustakaan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM. Selain untuk menciptakan pembelajaran sepanjang hayat, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat belajar masyarakat, wahana dalam mencari informasi serta rekreasi, yang tidak hanya mencerdaskan tapi juga memberdayakan masyarakat.

Berdasarkan hasil terbaru dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan RI serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 lalu yang mengukur aktivitas literasi dan membaca pada 34 provinsi, Kalteng berada pada urutan ke-21. Ada empat faktor permasalahan umum yang menyebabkan rendahnya aktivitas membaca dan literasi.
“Budaya membaca kurang, tingkat literasi kurang, pemanfaatan perpustakaan di daerah, dan ketertinggalan dalam pembangungan indeks pembangunan manusia (IPM),” katanya di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Selasa (15/9).
Untuk itu, sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, gubernur menginstruksikan agar semua sektor di pemerintah daerah (pemda) dan semua lapisan masyarakat termasuk sektor swasta, secara khusus kepada bunda literasi dan duta baca Kalteng, agar membangun SDM yang unggul melalui sosialisasi gerakan Kalteng membaca. Misalnya, mengajak setiap keluarga sebagai satuan terkecil dari masyarakat agar menyediakan waktu untuk membaca bersama anggota keluarga.
Sementara itu, Yulistra Ivo Sugianto Sabran sebagai bunda literasi mengatakan, dalam meningkatkan minat baca saat ini, yang juga tidak kalah penting adalah literasi digital, yakni upaya menangkal hoaks. Sebab, saat ini sebagian besar manusia telah beralih dari membaca buku menjadi bergadget.
“Ini menjadi tugas bersama, bagaimana menggunakan smartphone secara bijak, karena yang menjadi fokus saat ini yakni fenomena hoaks,” tegasnya.
Pasalnya, berdasarka survei, mayoritas masyarakat Indonesia cenderung menerima mentah-mentah informasi tanpa verifikasi dan memfilter kebenarannya. Tak jarang terhasut berita bohong yang diunggah ke media sosial oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Gerakan literasi digital ini juga perlu diedukasikan kepada masyarakat. Soal bagaimana menggunakan digital. Nanti dapat bekerja sama dengan komunitas-komunitas dan para pakar hukum untuk bersama-sama menangkal hoaks, agar tidak menjadi isu yang menyebabkan perpecahan,” tutup Ivo. (*/ce/ala)

Related Articles

Back to top button