Berita

KLHK Gelar Workshop 2 Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Palangka Raya

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar Workshop II Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Palangka Raya, Selasa (13/9/2022).

Kegiatan ini dilaksanakan berlandaskan Peraturan Presiden Nomor 98 tahun 2021 tentang penyelenggaraan nilai ekonomi karbon untuk pencapaian target kontribusi yang ditetapkan secara nasional dan pengendalian emisi gas rumah kaca dalam pembangunan nasional.

Selain itu, juga sesuai peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.168/MENLHK/ PKTL/PLA.1/2/2022 tentang Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.

Sekda Kalteng Drs H Nuryakin MSi melalui Asisten III Ir Sri Suwanto MS sangat mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya acara ini tidak hanya di lakukan di Kalteng saja, tetapi juga nasional.

“Persoalan ini juga sudah menjadi komitmen dunia. Harapannya pada tahun 2030 sudah netral antara gas rumah kaca dan penyerapannya,” terang Sri Suwanto.

Dia mengharapkan, kegiatan ini bisa di implementasikan sederhana dan mudah di pahami. Sehingga tidak hanya orang teknis kehutanan yang paham, tetapi juga masyarakat umum.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal PKTL KLHK selaku Sekretaris Tim Indonesia FOLU Net Sink 2030 Dr Hanif Faisol Nurofiq SHut MP mengatakan. Saat ini perubahan iklim menjadi isu dunia.
Badan PBB, katanya, meminta seluruh negara untuk meningkatkan ambisi dan kerja nyata dalam penggunaan iklim. Yang mana Indonesia kemudian menjawab dengan program Indonesia’s FOLU Net Sink.

“Ini adalah salah satu strategi Indonesia melanjutkan komitmen pengurangan emisi di sektor kehutanan. Sebagaimana di ketahui kehutanan mampu menyerap karbon dan menjadi modalitas kita dalam menjawab tantangan internasional,” jelasnya

Seperti di ketahui, tandas Hanif Faisal Nurofiq, negara-negara maju di dunia kesulitan mereduksi emisinya karena di sektor kehutanan mereka terbatas. Sementara Indonesia merupakan tiga negara terbesar pemilik hutan tropis di dunia setelah Brasil dan Kongo.

“Karena itu, tata kelola kehutanan saat ini bergeser. Dulu fokus terhadap kayu, tapi sekarang karbon,” tutupnya (yan/b-3)

Related Articles

Back to top button