Jumat Agung: Bukan Sekadar Hari Libur Nasional, Inilah Inti Iman Kristiani dan Kasih Penebusan

KALTENG.CO-Jumat Agung, hari hening di tengah Pekan Suci umat Kristiani, menyimpan makna mendalam tentang pengorbanan Yesus Kristus. Momen ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Libur Nasional.
Di tengah hiruk pikuk Pekan Suci bagi umat Kristiani, terdapat satu hari yang terasa begitu kontras: Jumat Agung. Tidak ada perayaan gegap gempita, melainkan keheningan yang sarat akan makna. Hari ini adalah waktu untuk merenungkan kesedihan dan pengorbanan agung Yesus Kristus yang disalibkan demi keselamatan seluruh umat manusia.
Dilansir dari Kitab Digital, Jumat Agung bukanlah sekadar hari libur keagamaan. Lebih dari itu, momen ini merupakan inti dari kepercayaan Kristiani. Inilah hari di mana Sang Juru Selamat memikul salib berat menuju Golgota, menuntaskan misi penebusan dosa manusia.
Peristiwa penyaliban ini bukanlah kejadian yang tiba-tiba. Ia merupakan penggenapan dari nubuat para nabi dalam Kitab Suci yang telah jauh-jauh hari menyatakan bahwa Mesias akan menderita demi umat manusia.
Bagi gereja Kristen di masa-masa awal, Jumat Agung adalah peringatan yang sangat sakral. Tradisi memperingatinya telah dirayakan sejak abad ke-4 dan terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Makna Teologis yang Mendalam
Secara teologis, Jumat Agung melambangkan kedalaman kasih Allah kepada umat manusia. Kasih ini bukanlah karena manusia layak menerimanya, melainkan semata-mata karena kasih karunia-Nya.
Yesus Kristus, yang tanpa dosa sedikit pun, memilih jalan penderitaan di kayu salib agar manusia dapat kembali berdamai dengan Allah. Seperti yang tertulis dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma: “Kristus telah mati karena kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Inilah wujud kasih yang tak bersyarat, kasih yang menjelma dalam setiap luka, paku yang menancap, dan mahkota duri yang menyakitkan.
Ritual dan Penghayatan di Gereja
Di berbagai gereja di seluruh dunia, Jumat Agung diperingati melalui ibadah yang khusyuk dan penuh penghayatan. Berbeda dengan misa pada hari-hari biasa, liturgi pada Jumat Agung bersifat kontemplatif.
Ibadah biasanya dimulai dengan pembacaan kisah sengsara Yesus Kristus yang diambil dari Injil Yohanes. Kemudian, umat melakukan penghormatan kepada salib sebagai simbol pengorbanan Kristus.
Dalam ibadah ini, umat juga menerima komuni dari hosti yang telah dikonsekrasikan pada Kamis Putih sebelumnya.
Selain itu, banyak gereja juga mengadakan devosi Jalan Salib, di mana umat secara bersama-sama merenungkan dan menyusuri jejak-jejak penderitaan Kristus, mulai dari pengadilan Pilatus hingga mencapai puncak Kalvari.
Ajakan untuk Merenungkan Diri
Lebih dari sekadar ritual, Jumat Agung juga menjadi panggilan bagi setiap umat Kristiani untuk berpuasa, menahan diri dari kesenangan duniawi, dan secara mendalam merenungkan kembali relasi pribadi dengan Tuhan.
Hari ini adalah momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan introspektif: sudahkah kita benar-benar memahami betapa besar harga penebusan yang telah dibayar oleh Kristus bagi kita?
Harapan di Balik Kesunyian
Meskipun Jumat Agung diwarnai dengan kesunyian dan kesedihan, hari ini bukanlah hari tanpa harapan. Dalam keheningan terdapat kekuatan yang mendalam. Dalam kegelapan tersimpan janji akan fajar kebangkitan yang akan tiba pada hari Minggu Paskah.
Jumat Agung mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya, dan kematian bukanlah sebuah kekalahan abadi. Justru dari pengorbanan di kayu salib, kehidupan baru yang kekal dimulai. Bagi umat Kristiani, Jumat Agung bukan hanya sekadar mengenang peristiwa masa lalu.
Lebih dari itu, hari ini adalah kesempatan untuk memperbaharui iman dan pengharapan. Sebab dari salib Kristus, mengalir kasih yang tak pernah habis, kasih yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan seluruh dunia. (*/tur)



