EKSEKUTIFPEMKAB BARITO UTARA

Tak Hanya Peningkatan PAD dan Pertumbuhan Ekonomi

MUARA TEWEH,Kalteng.co – Bupati Kabupaten Barito Utara H Shalahuddin ST MT menginstruksikan agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada peningkatan PAD atau pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada kebijakan redistribusi yang lebih berpihak kepada masyarakat bawah. “Pemerintah daerah Kabupaten Barito Utara dalam hal ini eksekutif bersama-sama dengan legislatif terus berupaya secara konkret dan terukur dalam memenuhi kebutuhan nyata masyarakat,” katanya kepada media belum lama ini.

Namun demikian, di tengah keberhasilan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, Kabupaten Barito Utara justru menghadapi ancaman baru berupa kesenjangan pendapatan yang melebar tajam. Berdasarkan yang tertuang pada pidato pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Shalahuddin dalam Rapat Paripurna DPRD, Senin (30/3), Gini Ratio daerah tersebut melonjak signifikan dari 0,269 pada tahun 2024 menjadi 0,328 pada tahun 2025. Angka ini mengindikasikan jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin terbuka lebar.

Bupati secara terbuka memaparkan data yang mengkhawatirkan ini di hadapan para wakil rakyat. “Ketimpangan pendapatan (Gini Ratio) di Kabupaten Batara mengalami kenaikan angka pada tahun 2025 sebesar 0,328 dibandingkan pada tahun 2024 sebesar 0,269,” ujarnya. Kenaikan sebesar 0,059 poin dalam satu tahun tergolong cepat dan menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah untuk segera mengevaluasi kebijakan distribusi kesejahteraan.

Para ekonom menilai bahwa lonjakan Gini Ratio ini bisa menjadi efek samping dari pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif. Meskipun pendapatan per kapita meningkat dari Rp51.765,5 menjadi Rp52.731,8, namun kenaikan tersebut tampaknya hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang melambat hingga 3,12 persen justru berpotensi memperburuk keadaan karena lapangan kerja baru tidak tumbuh cukup cepat untuk menyerap tenaga kerja dari kelompok bawah.

Kesenjangan yang melebar ini kontras dengan pencapaian penurunan angka kemiskinan yang hanya turun 0,15 persen (dari 5,67% menjadi 5,52%). Penurunan yang tipis tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang keluar dari garis kemiskinan kemungkinan besar berada tepat di atas garis kemiskinan (hampir miskin) dan sangat rentan untuk jatuh miskin kembali. (hms)

Related Articles

Back to top button