
KALTENG.CO–PSIM Yogyakarta harus menelan pil pahit kekalahan perdana mereka di ajang Super League 2025/2026. Bermain di kandang sendiri, Stadion Sultan Agung, Bantul, Laskar Mataram harus mengakui keunggulan Borneo FC dengan skor akhir 1-3.
Kemenangan ini membuat Pesut Etam, julukan Borneo FC, sukses melesat ke puncak klasemen sementara dengan koleksi 12 poin dari lima pertandingan.
Sementara itu, PSIM harus puas tertahan di posisi keempat dengan raihan 8 poin dari jumlah laga yang sama. Kekalahan ini menjadi sorotan tajam, terutama karena PSIM tampil di depan ribuan suporternya sendiri.
Efektivitas Serangan Balik Borneo FC Jadi Kunci
Sejak menit awal, PSIM sebenarnya tampil dominan. Dengan mengandalkan kreativitas duo andalan, Ze Valente dan Ezequiel Vidal, Laskar Mataram mencoba mengendalikan permainan. Namun, strategi Borneo FC yang mengandalkan serangan balik cepat justru lebih efektif.
Aksi memukau dari Mariano Peralta dan Sihran Amarullah di lini depan berulang kali mengancam pertahanan PSIM yang terlihat rapuh.
Borneo FC akhirnya berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-28 melalui gol ciamik Sihran Amarullah. Sepakan kerasnya dari luar kotak penalti menghujam deras ke pojok kanan gawang yang dijaga oleh Cahya Supriadi.
Di babak kedua, dominasi Borneo FC semakin terlihat. Villa berhasil menggandakan keunggulan di menit ke-60 setelah menerima umpan matang dari Mariano Peralta. Puncaknya, Maicon de Souza menambah gol ketiga di menit ke-83, membuat skor menjadi 0-3 dan seakan mengunci kemenangan Borneo FC.
Meski begitu, PSIM sempat membalas satu gol lewat aksi Anton Fase semenit berselang, yang melepaskan tembakan keras dari sisi kanan pertahanan Borneo FC. Namun, gol tersebut tidak cukup untuk mengubah hasil akhir pertandingan.
Evaluasi Lini Belakang PSIM dan Konsistensi Borneo FC
Hasil ini tentu menjadi catatan penting bagi pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel. Lini belakang Laskar Mataram terlihat sangat kewalahan menghadapi kecepatan serangan balik lawan. Perbaikan di sektor ini menjadi pekerjaan rumah utama agar kekalahan perdana ini tidak berlanjut. Meskipun demikian, perjalanan kompetisi masih panjang, dan peluang PSIM untuk bangkit dan kembali bersaing di papan atas tetap terbuka lebar.
Di sisi lain, kemenangan ini menegaskan dominasi dan konsistensi Borneo FC di awal musim. Di bawah asuhan pelatih Fabio Lefundes, Pesut Etam menunjukkan bahwa mereka adalah kandidat serius juara. Dengan materi pemain yang merata di setiap lini dan taktik yang efektif, Borneo FC memiliki peluang besar untuk mempertahankan tren positif mereka dan menjadi salah satu kekuatan utama di Super League 2025/2026.
Apakah PSIM mampu bangkit dari kekalahan ini dan kembali ke jalur kemenangan? Dan sejauh mana konsistensi Borneo FC akan bertahan di musim ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (*/tur)



