
KALTENG.CO-Lembaga penelitian dan advokasi SETARA Institute resmi merilis laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025. Laporan tahunan ini menjadi potret sejauh mana kota-kota di Indonesia mampu merawat keberagaman dan menjamin kebebasan beragama bagi warganya.
Hasil tahun ini membawa kejutan besar. Nama-nama besar seperti Jakarta dan Surabaya absen dari jajaran 10 besar, sementara kota-kota seperti Tegal dan Ambon menunjukkan akselerasi yang luar biasa dalam mempromosikan inklusivitas.
Daftar 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2025
Berdasarkan penilaian komprehensif SETARA Institute, berikut adalah 10 kota dengan skor toleransi tertinggi di Indonesia tahun 2025:
Salatiga
Singkawang
Semarang
Pematang Siantar
Bekasi
Sukabumi
Magelang
Kediri
Tegal
Ambon
Dinamika Baru: Toleransi Bukan Status Statis
Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, menekankan bahwa peta toleransi nasional tahun ini sangat dinamis. Masuknya Kota Tegal dan Kota Ambon membuktikan bahwa peringkat 10 besar tidak eksklusif milik kota-kota tertentu saja.
“Perubahan ini mengandung makna bahwa performa toleransi bukanlah status yang statis, melainkan hasil dari proses kebijakan yang dapat diperbaiki dan ditingkatkan,” ujar Halili pada Kamis (23/4/2026).
Hal ini memberikan pesan kuat bagi pemerintah daerah lain bahwa dengan kolaborasi aktif antara pemerintah, komunitas lintas iman, dan masyarakat sipil, skor toleransi sebuah wilayah bisa ditingkatkan secara signifikan.
Lompatan Drastis Kota Tegal
Salah satu sorotan utama dalam IKT 2025 adalah Kota Tegal. Jika pada IKT 2024 kota ini masih bertengger di posisi ke-39, tahun ini Tegal berhasil merangsek ke peringkat 9. Kunci keberhasilan ini terletak pada pondasi hukum yang kuat, yakni Perda Nomor Tahun 2024 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama.
Kembalinya Sang “Manise” Ambon
Sementara itu, Kota Ambon berhasil membuktikan keberhasilannya dalam melakukan konsolidasi internal. Setelah sempat absen, kini Ambon kembali ke jajaran 10 besar, menandakan bahwa ekosistem toleransi di sana telah pulih dan semakin kokoh.
Mengapa Jakarta dan Surabaya Tidak Masuk?
Absennya Jakarta dan Surabaya dalam daftar 10 besar menjadi catatan tersendiri. Meski keduanya merupakan kota metropolitan dengan keragaman yang tinggi, persaingan di papan atas IKT 2025 sangat ketat. Kota-kota yang masuk dalam daftar 10 besar dinilai memiliki konsistensi yang lebih unggul dalam menjaga kebebasan beragama dan memperkuat regulasi non-diskriminatif.
Rahasia di Balik Kota-Kota Paling Toleran
Menurut SETARA Institute, keberhasilan kota-kota di atas ditopang oleh sinergi dari tiga jenis kepemimpinan yang promotif:
Kepemimpinan Kemasyarakatan (Societal Leadership): Aktifnya peran tokoh agama dan masyarakat dalam menjaga akar rumput.
Kepemimpinan Politik (Political Leadership): Komitmen kepala daerah dalam mengeluarkan kebijakan yang inklusif.
Kepemimpinan Birokrasi (Bureaucratic Leadership): Implementasi kebijakan di lapangan yang bebas dari diskriminasi.
Laporan IKT 2025 menjadi pengingat bahwa toleransi adalah kerja berkelanjutan. Keberhasilan Salatiga, Singkawang, hingga pendatang baru seperti Tegal dalam menjaga ekosistem inklusif diharapkan menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia untuk terus berbenah demi Indonesia yang lebih harmonis. (*/tur)



