Pengembangan Identitas Moral melalui Kearifan Budaya Lokal Dayak dalam Kurikulum Pendidikan

Liberti Hia ( Dosen PGRI Pendidikan Sejarah)
Liberti Hia ( Dosen PGRI Pendidikan Sejarah)


Kalteng.co-Kurikulum Pelajar Pancasila merupakan salah satu struktur Kurikulum Paradigma Baru (Kurikulum Prototipe) 2022. Pelajar pancasila pada peserta didik tingkat SD/SMP/SMA/SMK sudah disiapkan oleh pemerintah, profil pelajar Pancasila ini bermula dari sebuah Rencana Strategis Kemendikbud tahun 2020-2024
yang di harapkan “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Dimana kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21. Dalam hal ini, peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya keenam dimensi tersebut secara bersamaan, tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah:

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.
  2. Berkebinekaan global.
  3. Bergotong-royong.
  4. Mandiri.
  5. Bernalar kritis6.
  6. Kreatif.
    Seperti kita ketahui pancasila tidak lahir begitu saja ia lahir dari pemikiran pemimpin bangsa melewati proses yang panjang , saat itu bangsa kita mengalami perbedaan, dan himpitan dari para penjajah yang semena mena mengeksploitasi dan memperbudak negara Indonesia seenaknya saja. pancasila adalah solusi untuk mengatasi perbedaan dan penyemangat dalam menghadapi penjajah. Pancasila berperan penting sebagai dasar kehidupan bersama di Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara menganut paham menghargai seluruh umat beragama di Indonesia, tanpa mengutamakan atau membeda-bedakan salah satu golongan agama. Pancasila ini menjadi lebih sesuai bagi Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam agama. Dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tidak akan lupa akan Tuhan Yang Maha Esa, yang akan membuat sikap kita menjadi lebih bermartabat dan memiliki nilai moral yang baik, selalu menjunjung tinggi nilai persatuan, selalu berusaha untuk bersikap adil dimanapun, kapanpun, kepada siapapun, memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, gotong royong dan sikap tidak egois serta akan tercipta kehidupan yang aman, damai dan tentram, perpecahan pun tak akan terjadi jika terjadi salah paham.
    Melihat ideologi Pancasila, harus dilihat dari sampai sejauh mana implementasi nilai-nilai kemanusiaan universal dari kebudayaan asli berbagai suku bangsa Indonesia, Kebudayaan Dayak adalah salah satu kekayaan budaya yang substansi nilai nya tentang keharmonisan, perdamaian, cinta kasih, penghargaan kemanusiaan, keberagaman, keseimbangan hidup dengan alam atau selaras dengan alam, mengutamakan kearifan, kebijaksanaan, toleransi , dan sejenisnya. Paham ideologi Pancasila dilahirkan/disarikan dari kebudayaan asli berbagai suku bangsa di Indonesia. Huma Betang yang merupakan Filosopi orang Dayak merupakan filosopi yang menjunjung tinggi perdamaian dan anti-kekerasan serta hidup toleransi yang tinggi antar-umat beragama.
    Makna Huma Betang, Habaring Hurung ( dari bahasa Dayak Ngaju yang artinya Gotong Royong), Penyang Hinje Simpei ( dari bahasa Sangiang artinya semangat persatuan dan kesatuan, Handep Hapakat ( dari bahasa Dayak ngaju artinya saling bantu membantu, tolong menolong dalam kebersamaan yang solid dan masih banyak lagi nilai-nilai kearifan local Dayak, hal tersebut wajib di turunkan turun –temurun dan di ajarkan di bangku sekolah yang merupakan bagian dari kurikulum di Kalimantan Tengah. Karena Pemahaman dan penerapan nilai-nilai ini begitu penting sebagai pondasi menuju Indonesia maju dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul berkarakter kebangsaan, bukan hanya pintar dan piawai dalam teknologi pengembangan identitas moral melalui kearifan budaya lokal sangat diperlukan.(*)