
Menghadapi anak memang tak mudah. Adakalanya, ayah dan ibu emosi. Kata-kata yang diucapkan jadi tak menyenangkan. Hati-hati, pola asuh yang seharusnya mendidik bisa berubah jadi toksik.
MENGENANG masa kecil, mungkin sebagian di antara kita pernah mengalami dibentak, dicubit, hingga disanksi fisik oleh orang tua. Atau, dibanding-bandingkan dengan si kakak, adik, bahkan tetangga. Harapannya, tindakan itu membuat anak tangguh. Namun, pola asuh tersebut justru berdampak sebaliknya.Psikolog Irma Gustiana Andriani MPsi menjelaskan, pengasuhan itu tergolong toksik. Ucapan kasar maupun hukuman fisik yang berulang-ulang perlahan melukai emosi anak. Keluarga, yang seharusnya merupakan tempat paling aman buat anak, tak berfungsi karena sikap orang tua, tegasnya.Irma menyatakan, ayah dan ibu yang toksik sering kali tidak sadar bahwa tindakannya keliru. Menurut dia, toxic parenting ditandai dengan sikap orang tua yang tidak menghormati dan memperlakukan anak sebagai individu utuh. Psikolog sekaligus pendiri Ruang Tumbuh itu menjelaskan, sikap racun orang tua muncul akibat trauma masa kecil.Bisa jadi, ayah atau ibu diasuh dengan keras sehingga timbul luka dan rasa tidak percaya.
Lalu, siklusnya berulang saat mereka memiliki anak, imbuhnya. Di sisi lain, sering kali pelaku toxic parenting juga besar di keluarga yang tak berfungsi baik. Misalnya, diasuh orang tua yang kerap bertengkar. Atau, orang tua memiliki karakter perfeksionis.Psikolog alumnus Universitas Indonesia tersebut menyatakan, luka akibat pengasuhan toksik muncul ketika anak mulai dewasa. Konsep diri berantakan. Karena sering dibandingkan atau direndahkan, anak merasa tak dianggap.
Mereka pun merasa tidak pantas dicintai. Di sisi lain, mereka pun sulit percaya pada lingkungannya.




