
Palangka Raya, Kalteng.co – Ngeri-ngeri sedap jika melihat perkembangan kasus positif Covid-19 di Kalteng sepekan terakhir. Lebih mengerikan lagi jika menengok tingginya kasus kematian akibat virus ini.
Peta risiko itu sangat berbeda dengan unggahan Satgas Covid-19 Kalteng melalui Instagram @diskominfosantikkalteng yang menunjukkan semua daerah di Kalteng berada di zona kuning.
Kalteng tidak dalam kondisi baik-baik saja. Persatuan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Kalteng yang tergabung dalam Satgas Covid-19 Kalteng menyebut, peningkatan tersebut di indikasikan akibat varian delta.
Ketua PAEI Persatuan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Kalteng Rini Fortina mengata- kan, tingginya kasus positif dan angka kematian akhir-akhir ini sangat mungkin akibat varian delta. Tak hanya itu, penerapan protokol kesehatan (prokes) yang melemah juga menjadi pemicu persebaran virus makin masif.
“Sebelumnya satu orang terpapar Covid-19 akan menular kepada dua hingga tiga orang, tapi penularan saat ini kecepatannya makin tinggi, estimasinya satu orang terpapar bisa menularkan kepada delapan hingga sembilan orang, penilaian penentuan ini berbeda tiap daerah, demikian juga di Kalteng,” katanya kepada Kalteng Pos, Senin (5/7).
Di ungkapkannya, sejak awal pandemi pihaknya selalu menyebut bahwa kondisi Kalteng tidak baik-baik saja. Hingga saat ini pernyataan itu belum di cabut. “Kondisi dari awal pandemi sudah demikian, dari awal pandemi memang tidak aman, dan saya tidak pernah mencabut pernyataan tidak aman itu,” katanya.
Rini menyebut, berdasarkan data yang di olahnya selama dua pekan terakhir, terjadi lonjakan kasus yang signifi kan, dari yang sebelumnya masih terkendali menjadi tidak terkendali. Bahkan saat ini lonjakan kasus sudah di atas 100 persen.
Kasus Pertama Sudah Di Atas 100 Persen
Maksudnya, di katakan terjadi lonjakan kasus apabila terjadi kasus tertinggi sebelumnya dan kenaikan berikunya berada di atas 50 persen dari lonjakan kasus sebelumnya. “Dengan demikian, kondisi saat ini sudah berada di kondisi lonjakan kasus kedua.
Artinya, saat ini puncak tertinggi kasus Covid-19 setelah terjadi lonjakan kasus pada Desember 2020 lalu,” sebut dia. Pasalnya, pada lonjakan kasus pertama terjadi kenaikan kasus mencapai 1.400 per minggu. Usai lebaran beberapa waktu lalu tidak terlihat lonjakan, karena kenaikan kasusnya masih di bawah 50 persen dari lonjakan kasus pertama.
“Tetapi, minggu ini tercatat 1.400 kasus, apabila di bandingkan dengan lonjakan kasus pertama tentu sudah di atas 100 persen, karena puncak kasus pertama berada di angka 1.200 kasus per minggu,” tuturnya. “Saran saya untuk pencegahan penyebaran Covid-19 ini, pemerintah dan Satgas Covid-19 harus lebih tegas kepada masyarakat. Masyarakat juga jangan marah jika di lakukan penegakan,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kalteng dr Suyuti Syamsul mengatakan, lonjakan kasus terkonfi rmasi positif Covid-19 di Kalteng menjadi perhatian serius pemerintah bersama pihak terkait dan masyarakat.
“Yang terjadi minggu kemarin, jika di bandingkan dengan minggu sebelumnya, naiknya 35 persen, ini menjadi warning bagi masyarakat Kalteng,” kata dr Suyuti Syamsul kepada media, Senin (5/7). Hal yang penting di pahami masyarakat, menurut dr Suyuti, pertambahan kasus bersifat eksponensial. Kunci untuk memangkas mata rantai adalah dengan penerapan prokes yang ketat.
“Sebab kemampuan kita menyiapkan tempat tidur pasien tidak eksponensia. Sehingga jika terus bertambah kasusnya, maka banyak yang tidak terlayani dan angka kematian menjadi lebih tinggi, bukan mati karena Covid-19, tapi karena rumah sakit tidak sanggup melayani,” tuturnya.




