Tekankan Keterlibatan Warga dan Pemerataan Manfaat Terkait Hadirnya Industri Smelter

SAMPIT, Kalteng.co – Rencana masuknya investasi industri smelter di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, di tengah antusiasme terhadap pembangunan ini, Anggota DPRD Kotim, Eddy Mashamy, mengingatkan bahwa keterbukaan informasi dan partisipasi masyarakat lokal adalah kunci utama agar kehadiran industri ini tidak menimbulkan gejolak sosial.
“Jangan sampai warga hanya jadi penonton di rumah sendiri. Sosialisasi dari investor dan pemerintah sangat penting agar masyarakat memahami apa itu smelter, manfaatnya, serta dampaknya,” ujar Eddy, Jumat (3/10/2025).
Menurut Eddy, komunikasi yang jujur dan terbuka sejak awal akan mencegah munculnya kesalahpahaman di masyarakat. Ia menilai, sering kali penolakan terhadap investasi bukan karena warga anti-pembangunan, tapi karena kurangnya informasi dan ketakutan terhadap dampak negatif yang tidak dijelaskan dengan baik.
“Investor harus menjalin dialog langsung dengan masyarakat. Libatkan tokoh adat, tokoh agama, dan generasi muda agar semua bisa terlibat aktif sejak perencanaan,” tambah politisi dari Fraksi PAN itu.
Salah satu harapan besar masyarakat terhadap kehadiran smelter adalah terbukanya lapangan kerja. Namun Eddy mengingatkan agar hal ini tidak hanya menjadi janji kosong. Ia menegaskan bahwa tenaga kerja lokal harus menjadi prioritas utama, bukan tenaga kerja dari luar daerah.
“Anak-anak kita harus diberi pelatihan, disiapkan sejak sekarang. Jangan sampai mereka hanya jadi penonton sementara peluang kerja justru diambil orang luar,” ujarnya.
Eddy juga mendorong agar pemerintah daerah segera menyusun peta kebutuhan tenaga kerja dan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri smelter.
Di tengah semangat industrialisasi, Eddy tidak ingin aspek lingkungan dikorbankan. Ia meminta agar analisis dampak lingkungan (Amdal) dilakukan secara serius dan benar-benar melibatkan masyarakat.
“Jangan sampai ekonomi naik tapi lingkungan rusak. Hutan, sungai, dan lahan produktif harus dilindungi. Jangan mengulangi kesalahan masa lalu,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti ketimpangan pembangunan antarwilayah di Kotim, khususnya Kecamatan Pulau Hanaut yang menurutnya masih tertinggal. Ia meminta agar program Corporate Social Responsibility (CSR) dari investor diarahkan untuk mendorong percepatan pembangunan di wilayah tersebut.
“Pulau Hanaut harus jadi prioritas CSR. Jangan semua hanya terfokus di daerah industri saja. Pemerataan itu penting agar tidak ada kecemburuan sosial,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Eddy Mashamy menyatakan optimisme bahwa masyarakat Kotim akan menyambut baik kehadiran industri smelter, selama hak dan kepentingan mereka dihormati.
“Kuncinya satu: libatkan masyarakat, berikan mereka ruang, dan pastikan mereka merasakan manfaat. Kalau itu dilakukan, saya yakin smelter akan jadi berkah, bukan masalah,” pungkasnya. (oiq)
EDITOR: TOPAN




