BeritaNASIONALPENDIDIKAN

Rerata Nilai Matematika 36,10: Hasil TKA SMP 2026 Jadi Alarm Literasi Nasional!

KALTENG.CO-Kabar terbaru datang dari dunia pendidikan tanah air. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa hasil sementara Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMP telah dikantongi oleh pemerintah.

Namun, hasil tersebut membawa catatan penting. Mu’ti menyebutkan bahwa capaian siswa SMP tahun ini menunjukkan tren yang serupa dengan TKA jenjang SMA yang dilaksanakan pada November 2025 lalu. Pengumuman ini disampaikan di tengah acara Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Potret Kemampuan Akademik Siswa Indonesia 2026

Penyelenggaraan TKA jenjang SMP yang dimulai pekan ini menjadi tolok ukur penting sebelum pemerintah melanjutkan tes serupa untuk jenjang SD pada pekan depan. Berdasarkan data awal dari dua hari pertama pelaksanaan, skor yang diraih siswa belum menunjukkan lonjakan yang signifikan.

“Hasilnya tidak jauh berbeda dengan tes SMA. Matematikanya akan berada di kisaran yang sama,” ujar Abdul Mu’ti di hadapan para mitra dari UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation.

Sebagai gambaran, rata-rata nilai TKA jenjang SMA periode 2025/2026 berada di angka:

  • Bahasa Indonesia: 55,38

  • Matematika: 36,10 (dari skala maksimal 100)

Angka ini selaras dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Data tersebut menunjukkan mayoritas siswa Indonesia masih berjuang di bawah rata-rata negara OECD, di mana hanya 18% siswa yang mampu melampaui skor rata-rata pada mata pelajaran matematika.

Melawan Learning Loss Pasca Pandemi

Mendikdasmen tidak menampik bahwa learning loss (kehilangan momentum belajar) dan learning poverty masih menjadi bayang-bayang kelam bagi pendidikan Indonesia, terutama sebagai dampak jangka panjang pandemi Covid-19.

Meski hasil sementara ini tampak menantang, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ini bukanlah titik akhir. Merujuk pada visi Presiden Prabowo Subianto, tantangan ini justru harus menjadi pemacu bagi seluruh pihak untuk melakukan pembenahan total.

“Literasi dan numerasi adalah kemampuan fundamental. Tanpa penguasaan dasar ini, sulit bagi siswa untuk menguasai ilmu pengetahuan lainnya,” tegas Mu’ti.

Strategi Baru: Bukan Sekadar Menghafal

Pemerintah telah menyiapkan langkah konkret untuk merespons hasil TKA ini melalui dua jalur utama:

  1. Pembenahan Kompetensi Guru: Mengubah pola pengajaran dari sekadar hafalan menjadi pemahaman mendalam dan penggunaan logika.

  2. Menumbuhkan Budaya Membaca: Abdul Mu’ti mendorong anak-anak untuk kembali dekat dengan bahan bacaan, tidak hanya buku teks, tetapi juga majalah, koran, atau media lain yang menstimulasi rasa ingin tahu.

Kolaborasi Multipihak untuk Perubahan

Perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian. Dalam kesempatan yang sama, Tanoto Foundation bersama Kemendikdasmen, Gates Foundation, dan UNICEF mengumumkan kolaborasi untuk memperkuat praktik pembelajaran di kelas.

Margaretha Ari Widowati, Head of Learning Environment Tanoto Foundation, menjelaskan bahwa fokus utama program ini adalah penguatan kualitas guru di kelas awal.

“Guru adalah kunci. Kami akan menggunakan data asesmen siswa agar intervensi yang dilakukan lebih terarah,” jelas Margaretha.

Cakupan Program Kolaborasi:

  • Wilayah: 6 Kabupaten/Kota (Tegal, Medan, Pematang Siantar, Batanghari, Sika, dan Ende).

  • Sasaran: 500 Sekolah Dasar (SD).

  • Target: 1.500 guru kelas awal.

Hasil TKA SMP 2026 menjadi pengingat bahwa perjalanan memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia masih panjang. Namun, dengan transparansi data dan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan lembaga internasional, harapan untuk meningkatkan literasi dan numerasi nasional tetap terbuka lebar.

Pengumuman resmi hasil akhir TKA SMP sendiri akan segera dilakukan setelah seluruh rangkaian ujian di berbagai daerah rampung dilaksanakan. (*/tur)


Related Articles

Back to top button