Review Film Mercy: Kisah Detektif yang Terancam Kursi Listrik Akibat Vonis Hakim AI

KALTENG.CO-Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar alat bantu mengetik atau peranti pencari informasi.
Di era modern, program super pintar ini diciptakan menyerupai kemampuan berpikir manusia untuk mempermudah pekerjaan yang rumit. Mulai dari meringkas penelitian skala besar hingga menyelesaikan tugas-tugas komputasi yang biasanya memakan waktu berjam-jam.
Namun, bagaimana jika teknologi tanpa emosi ini diberi wewenang mutlak untuk menentukan hidup dan mati seorang manusia di ruang sidang?
Premis provokatif inilah yang menjadi motor penggerak dalam film fiksi sains (sci-fi) terbaru berjudul Mercy. Film ini menyoroti bagaimana jadinya jika sistem peradilan masa depan memotong birokrasi hukum yang bertele-tele dengan menggunakan robot sebagai hakim tunggal.
Sinopsis Film Mercy: Sistem Peradilan AI yang Ekstrem di Los Angeles
Berlatar belakang di masa depan yang distopis, Kota Los Angeles, Amerika Serikat, tengah menghadapi lonjakan angka kriminalitas yang tak terkendali. Menanggapi situasi darurat ini, sistem peradilan mengambil keputusan ekstrem dengan menerapkan program sidang berbasis kecerdasan buatan bernama Hakim AI Mercy.
Langkah radikal ini khusus diterapkan untuk mengadili para pelaku kejahatan tingkat berat, seperti kasus pembunuhan berencana. Alih-alih melewati proses persidangan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan hingga tahunan, Hakim AI memangkasnya secara brutal:
Batas Waktu: Terdakwa hanya diberikan waktu 90 menit untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.
Konsekuensi: Jika dalam waktu satu setengah jam pembelaan mereka gagal memuaskan logika sang robot, terdakwa akan langsung dieksekusi di tempat menggunakan kursi listrik.
Ironi Detektif Chris Raven: Dari Pendukung Menjadi Terdakwa
Ironi terbesar dalam film ini menimpa Detektif Chris Raven (diperankan oleh Chris Pratt). Sebagai anggota Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD), Chris awalnya merupakan salah satu pendukung utama penerapan program Hakim AI ini demi efisiensi penegakan hukum.
Namun, roda berputar. Chris justru berakhir terikat di kursi terdakwa di hadapan Hakim Maddox (disuarakan/diperankan oleh Rebecca Ferguson), sang kecerdasan buatan penentu takdir. Chris dituduh secara kejam atas pembunuhan istrinya sendiri, Nicole (Annabelle Wallis).
Seluruh data digital dan bukti fisik di lapangan menyudutkan posisi Chris:
Bercak darah Nicole ditemukan menempel pada pakaian kerja Chris.
Rekaman kamera pengawas pintu depan (smart doorbell) memperlihatkan presensi Chris di lokasi kejadian tepat beberapa saat sebelum Nicole meregang nyawa.
Perlombaan Melawan Waktu dan Konspirasi Berdarah
Berada di ambang kematian, Chris harus memeras otaknya sendiri demi menuntun Hakim Maddox melihat celah dalam algoritma pembuktiannya. Selama proses investigasi kilat di dalam ruang sidang yang sunyi, Chris justru menemukan fakta-fakta kelam mengenai kehidupan sang istri yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, termasuk skandal perselingkuhan Nicole dengan pria lain. Sayangnya, jalur petunjuk ini buntu dan tidak cukup kuat untuk membersihkan namanya.
Penyelidikan digital Maddox kemudian beralih ke tempat kerja Nicole yang bergerak di bidang bisnis logistik. Dari sana, ditemukan data bahwa salah satu rekan kerja Nicole mengalami krisis finansial yang parah dan ada sejumlah besar bahan kimia berbahaya yang hilang dari gudang penyimpanan.
Chris menduga kuat rekan kerja tersebut menghabisi nyawa Nicole demi menyembunyikan skandal pencurian bahan kimia tersebut. Benar saja, data visual menunjukkan rekan kerja itu sempat berdiskusi mengenai hilangnya bahan kimia dengan Rob Nelson (Chris Sullivan), sahabat dekat keluarga Chris yang juga menjadi sponsornya saat berjuang sembuh dari kecanduan alkohol.
Mengurai Petunjuk Lewat Rekaman Barbekyu dan Media Sosial
Detik-detik akhir menuju batas waktu 90 menit menjadi sangat menegangkan. Chris meminta Maddox memutar ulang rekaman kamera di sekitar rumah mereka dari beberapa hari sebelumnya, tepat saat mereka mengadakan pesta barbekyu keluarga.
Dengan mencocokkan linimasa video tersebut dengan unggahan di akun media sosial putrinya, Chris menemukan anomali yang mengerikan: ada seorang tamu misterius yang sengaja tidak pulang dan menyelinap ke dalam ruang bawah tanah rumah mereka. Setelah Maddox meretas kamera pengawas milik para tetangga, sosok pembunuh yang sebenarnya akhirnya terungkap ke permukaan.
Di dalam ruangan itu, Chris bertarung sendirian melawan dinginnya logika sebuah mesin. Menariknya, meskipun AI diprogram tanpa emosi, interaksi intens dengan Chris perlahan membuat Hakim Maddox mulai mengalami distorsi sistem dan memunculkan “perasaan” yang seharusnya tidak dimiliki oleh baris-baris kode biner komputer.
Dilema Moral Penggunaan AI dan Review Performa Film
Film Mercy dengan gamblang menyajikan pedang bermata dua dari pemanfaatan kecerdasan buatan yang berlebihan. Film ini menjadi refleksi kuat bahwa tidak semua masalah kemanusiaan, terutama moralitas dan keadilan hukum, bisa diselesaikan secara mutlak oleh teknologi robotik.
Berdasarkan ulasan dari beberapa kritikus dan penonton, ide cerita yang diusung oleh Mercy dinilai sangat segar, orisinil, dan memikat. Kendati demikian, eksekusi narasinya dianggap kurang memuaskan bagi sebagian orang. Terlalu banyak polesan penyuntingan (editing) yang dipaksakan untuk mendukung atmosfer fiksi sains, sehingga film ini dinilai akan jauh lebih seru jika dinikmati dalam format bioskop 3D.
Bagi penonton yang mengharapkan film aksi penuh ledakan khas Chris Pratt, Anda mungkin harus menurunkan ekspektasi. Elemen aksi dalam film ini tergolong minimalis dan memiliki sinematografi yang terkadang terasa datar seperti menyaksikan konten lewat gawai harian.
Skor IMDb dan Rotten Tomatoes
Sebagai referensi sebelum Anda menonton, berikut adalah performa rating global yang diraih oleh film Mercy:
Skor IMDb:
6.2 / 10(Menunjukkan performa yang solid di kelas fiksi sains moderat).Rotten Tomatoes (Popcornmeter):
82%(Menandakan bahwa film ini sangat menghibur dan disukai oleh penonton arus utama).
Secara keseluruhan, Mercy tetap menjadi sebuah tontonan fiksi sains yang layak masuk daftar tontonan Anda, terutama bagi para pencinta tema distopia teknologi dan konspirasi kriminal yang menegangkan. (*/tur)



