BeritaFAMILYKESEHATANPalangka RayaPeristiwa

Geger Remaja Terjun dari Menara Masjid di Palangka Raya! Tinjauan Kejiwaan: Mengapa Skizofrenia Memicu Aksi Impulsif?

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Aksi nekat ZAS remaja 19 tahun yang terjun dari ketinggian puluhan meter menara Masjid Raya Darussalam Palangka Raya pada Kamis (11/6/2026) sore,  tak hanya menggegerkan, melainkan juga mengagetkan banyak kalangan, terutama para orang tua yang memiliki anak masih berusia remaja.

Pasalnya, dari informasi yang beredar bahwa ZAS ini merupakan salah satu pasien RSJ Kalawa Atei. Sehingga banyak orangtua yang baru tersadar bahwa gangguan jiwa itu ternyata juga bisa terjadi pada usia  remaja atau muda. Berikut penjelasannya?

https://kalteng.co

Kasus gangguan jiwa berat pada usia remaja akhir atau dewasa awal sering kali menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Salah satu kondisi psikosis kronis yang paling sering disorot adalah Skizofrenia. Namun, dunia medis modern membuktikan bahwa gangguan kejiwaan tidak selalu berdiri sendiri sebagai masalah psikologis murni.

Banyak manifesto gangguan jiwa berat yang berakar dari kondisi neurologis struktural, salah satunya adalah riwayat penyakit radang otak (ensefalitis). Memahami bagaimana gangguan organik pada otak dapat bermutasi menjadi gangguan psikosis esensial sangat penting untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, serta penanganan preventif bagi pasien usia muda.

Hubungan Organik: Bagaimana Radang Otak Memicu Gejala Skizofrenia?

Secara medis, radang otak atau ensefalitis adalah kondisi inflamasi pada jaringan otak yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau reaksi autoimun (seperti Anti-NMDA Receptor Encephalitis).

Ketika seseorang mengalami peradangan ini di usia muda, dampaknya tidak hanya terbatas pada gejala fisik fase akut seperti demam atau kejang, tetapi juga berisiko merusak struktur serta fungsi kognitif jangka panjang melalui dua jalur utama:

1. Kerusakan Jaringan dan Ketidakseimbangan Neurotransmitter

Peradangan yang parah dapat merusak area otak yang mengatur emosi, persepsi, dan logika, seperti korteks prefrontal dan sistem limbik.

Analisis Literatur Ilmiah: Menurut studi yang dimuat dalam The Lancet Psychiatry, proses inflamasi pada sistem saraf pusat dapat memicu disfungsi transmisi sinapsis dan merusak regulasi zat kimia otak (neurotransmitter), terutama dopamin dan serotonin. Ketidakseimbangan dopamin di jalur mesolimbik otak inilah yang menjadi patofisiologi utama munculnya gejala-gejala psikosis negatif maupun positif.

2. Skizofrenia Sekunder atau Gangguan Psikotik Organik

Dalam buku panduan klinis psikiatri (seperti DSM-5 atau PPDGJ-III), gejala psikosis yang muncul akibat penyakit fisik, trauma, atau infeksi pada otak diklasifikasikan sebagai Gangguan Psikotik Organik atau Skizofrenia Sekunder. Gejalanya bisa sangat mirip dengan Skizofrenia spektrum murni, yaitu:

  • Halusinasi: Distorsi persepsi di mana pasien mendengar bisikan atau melihat sesuatu yang tidak nyata.

  • Delusi/Waham: Keyakinan kuat pada hal-hal yang tidak sesuai dengan realitas objektif.

  • Perilaku Katatonik atau Impulsif: Tindakan nekat tanpa menyadari bahaya nyata di sekelilingnya.

Analisis Kejiwaan: Mengapa Usia Muda Rentan Terhadap Dorongan Impulsif Berbahaya?

Grup usia remaja akhir hingga dewasa awal (15–24 tahun) secara psikologis berada dalam fase transisi perkembangan yang rentan. Ketika fase pencarian identitas ini berbenturan dengan diagnosis gangguan jiwa berat pasca-sakit radang otak, beban psikis pasien meningkat secara radikal akibat dua disfungsi klinis:

1. Penurunan Fungsi Eksekutif (Executive Dysfunction)

Pasien pasca-radang otak dengan diagnosis Skizofrenia sering kehilangan kemampuan untuk menilai risiko (impaired judgment).

Otak depan mereka mengalami kesulitan untuk memproses hukum sebab-akibat. Ketika muncul dorongan impulsif—baik akibat perintah dari bisikan halusinasi (command hallucinations) atau distorsi realitas yang menakutkan—pasien cenderung langsung bertindak tanpa adanya mekanisme kendali atau rasa takut terhadap bahaya fisik dan kematian.

2. Memori Motorik dan Riwayat Perilaku Berulang (Pattern of Self-Harm)

Fase Akut/Relaps -> Distorsi Realitas (Halusinasi) -> Kegagalan Kognitif -> Repetisi Pola Impulsif Masa Lalu

Dalam analisis psikiatri, jika seorang pasien memiliki riwayat pernah melakukan tindakan nekat atau melukai diri sendiri di masa lalu (seperti melompat dari tempat tinggi), kondisi tersebut menandakan adanya suicidal ideation (ide bunuh diri) atau dorongan impulsif yang belum sepenuhnya terkontrol.

Jurnal ilmiah Schizophrenia Bulletin menyebutkan bahwa pasien dengan kerusakan organik memiliki kerentanan tinggi terhadap komparasi memori perilaku. Artinya, memori psikis dan motorik mereka cenderung mengulangi pola bahaya yang sama saat fase akut atau relaps (kambuh) terjadi, meskipun mereka telah atau sedang menjalani pengobatan rutin. Hal inilah yang mendasari mengapa pengawasan melekat (close monitoring) mutlak diperlukan.

Tantangan Pengobatan Multidisiplin: Poli Saraf vs Poli Jiwa

Pasien dengan kondisi kompleks seperti ini tidak bisa hanya ditangani dari satu sisi. Mereka memerlukan pendekatan medis dua arah yang berjalan berkesinambungan secara integratif:

Aspek MedisFokus PenangananTujuan Klinis
Poli Saraf (Neurologi)Pemulihan jaringan saraf, pencegahan kerusakan struktur otak lebih lanjut, dan pengelolaan dampak fisik pasca-infeksi.Menjaga stabilitas fisik dan organik organ otak.
Poli Jiwa (Psikiatri / RSJ)Stabilisasi emosi, penekanan gejala psikosis melalui obat antipsikotik, dan terapi perilaku (CBT).Membantu pasien tetap berpijak pada realitas dan mengontrol impulsivitas.

Meskipun kontrol rutin telah dilakukan secara ketat oleh keluarga ke fasilitas kesehatan, risiko terjadinya relaps (kekambuhan mendadak) tetap mengintai. Fluktuasi neurokimiawi emosi, stres lingkungan, atau distorsi persepsi yang datang tiba-tiba bisa memicu tindakan fatal dalam hitungan menit, bahkan sesaat setelah pasien menyelesaikan sesi pengobatan medisnya.

Langkah Preventif Lingkungan Terdekat

Kondisi gangguan jiwa berat yang dipicu oleh penyakit organik seperti radang otak adalah sebuah ujian medis yang luar biasa rumit. Bagi keluarga yang bertindak sebagai caregiver, dukungan psikososial dan modifikasi lingkungan fisik yang aman (seperti membatasi akses ke tempat tinggi atau ruang terbuka yang berbahaya) adalah pilar utama pencegahan.

Masyarakat luas perlu diedukasi bahwa tindakan nekat yang dilakukan oleh penderita gangguan jiwa berat bukanlah sebuah pilihan sadar, melainkan akibat dari kerusakan sistem kontrol biologis di dalam otak mereka. Edukasi yang inklusif mengenai kesehatan mental pasca-trauma otak diharapkan dapat mengikis stigma negatif dan memperkuat sistem pendukung (support system) bagi para penyintas.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa-masa sulit, krisis psikologis, atau memiliki pemikiran untuk menyakiti diri sendiri, mohon jangan dipendam sendiri. Segera cari bantuan profesional. Anda dapat menghubungi fasilitas kesehatan atau rumah sakit terdekat, Unit Pelayanan Ruang Rawat Inap Jiwa di RSUD setempat, atau menghubungi hotline kesehatan jiwa nasional untuk mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat. (*/tur)

Related Articles

Back to top button