BeritaHukum Dan KriminalNASIONALSOSOK

Siapa Fredy Pratama? Buron Kakap Pencucian Uang Narkoba yang Jadi Target Operasi Escobar: Ternyata Cina Banjar

KALTENG.CO-Kasus peredaran gelap narkotika di Indonesia kerap memunculkan nama-nama besar, namun jarang ada yang memiliki skala operasi se-masif Fredy Pratama.

Sebelum menjadi buronan kakap yang paling dicari oleh kepolisian lintas negara, pria kelahiran 25 Juni 1985 ini mengawali dinasti bisnis haramnya dari tanah kelahirannya sendiri di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Bagaimana perjalanan sang gembong yang dikenal dengan nama samaran Miming atau Mojopahit ini dalam membangun kekaisaran hitamnya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Awal Mula Jaringan Borneo: Menggurita Sejak 2009

Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak kepolisian, Fredy Pratama tercatat mulai menjejakkan kakinya di dunia hitam sejak tahun 2009. Berawal dari skala lokal di Kalimantan Selatan, ia mengedarkan sabu-sabu dan ekstasi bersama orang-orang terdekatnya untuk menguasai pasar Pulau Borneo.

Seiring berjalannya waktu, sayap bisnis putra dari Lian Silas ini kian melebar. Fredy mulai mengambil pasokan barang haram langsung dari kawasan Golden Triangle (Segitiga Emas)—sebuah wilayah sub-regional di Asia Tenggara yang dikenal sebagai produsen narkotika terbesar. Dari sana, distribusi tidak lagi hanya menyasar Kalimantan, melainkan mulai merambah ke kota-kota besar di Pulau Jawa.

Pelarian ke Luar Negeri pada 2014

Ketika aktivitas ilegalnya mulai terendus oleh aparat penegak hukum, Fredy mengambil langkah seribu. Sejak tahun 2014, ia resmi melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari kepungan petugas. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa pria berambut gondrong dalam laman Red Notice Interpol ini bersembunyi di salah satu kawasan hutan di Thailand, negara asal istrinya. Meski demikian, kepastian titik koordinat keberadaannya masih misterius hingga hari ini.

Transformasi Menjadi Kartel Internasional yang Rapi

Bukannya meredup setelah sang bos besar kabur, jaringan Fredy Pratama justru semakin menggila. Fredy bertransformasi dari sekadar pemain lokal menjadi operator kartel internasional. Dari balik tempat persembunyiannya di luar negeri, ia mengendalikan pasokan narkoba dalam jumlah fantastis untuk para bandar di Indonesia.

Jaringan ini tidak hanya melibatkan kerabat dekat, tetapi juga telah menyeret oknum aparat yang akhirnya berujung di meja hijau. Pada tahun 2023, Komjen Wahyu Widada (kala itu menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri) mengakui rapinya manajemen organisasi kriminal ini.

“Jaringan Fredy Pratama boleh dikatakan sebagai jaringan yang rapi. Mereka memiliki alat dan pola komunikasi khusus yang berbeda, sehingga kerap kali berhasil mengelabui petugas saat menyelundupkan narkoba ke Indonesia.” — Komjen Wahyu Widada

Operasi Escobar dan Aliran Dana Fantastis Rp51 Triliun

Demi memutus urat nadi peredaran ini, Polri meluncurkan operasi khusus bersandi Operasi Escobar. Menyadari bahwa kekuatan utama kartel ini berada pada logistik dan keuangannya, Polri menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Langkah joint operation ini membuahkan hasil yang mencengangkan. Berikut adalah rincian data aset dan perputaran uang jaringan Fredy Pratama:

Indikator Keuangan & AsetJumlah / Nilai EkonomisKeterangan
Total Perputaran UangRp51 TriliunAkumulasi data PPATK periode 2012–2023 (Rata-rata Rp5 Triliun/tahun)
Rekening Diblokir606 RekeningSeluruhnya terkoneksi dengan jaringan Fredy
Total Estimasi Sitaan AsetRp10,5 TriliunAkumulasi sitaan Polri periode 2020–2023
Sitaan Sabu-Sabu10,2 Ton (Senilai Rp10,2 Triliun)Barang bukti narkoba utama
Sitaan Ekstasi1.116.346 Butir (Senilai Rp63,99 Miliar)Barang bukti narkoba sekunder
Aset Langsung & TPPURp55,02 Miliar (Narkoba) & Rp273,43 Miliar (TPPU)Properti, kendaraan, dan dana tunai

Penangkapan Frans Antoni: Langkah Krusial Menuju Fredy Pratama

Titik terang dalam perburuan ini kembali muncul setelah Bareskrim Polri berhasil membekuk Frans Antoni, yang diidentifikasi sebagai salah satu orang kepercayaan sekaligus pengatur keuangan Fredy Pratama.

Frans diketahui sempat bersembunyi selama dua tahun terakhir di kawasan Narasiri, Thailand. Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa pelarian Frans selama di Thailand difasilitasi langsung oleh orang suruhan Fredy yang merupakan warga negara lokal setempat.

Pendalaman Intensif oleh Satgas NIC

Hingga akhir Juni 2026, pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan mendalam terhadap Frans Antoni serta istrinya. Ketua Satuan Tugas (Satgas) NIC sekaligus Kasubdit III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Kombes Zulkarnain Harahap, menegaskan bahwa proses interogasi masih berjalan secara intensif guna mengorek informasi keberadaan sang gembong besar.

Dengan tertangkapnya sang arsitek keuangan, Polri optimis dapat mempersempit ruang gerak Fredy Pratama. Fokus penyidikan kini diarahkan penuh untuk membongkar seluruh aliran dana, meruntuhkan jaringan pendukung, dan mengesekusi red notice terhadap Fredy Pratama—sosok yang diperkirakan mampu menyuplai 100 hingga 500 kilogram sabu per bulan ke pasar Indonesia. (*/tur)

Related Articles

Back to top button