BeritaLife StyleMETROPOLIS

Burnout Digital? Intip 10 Hobi Jadul Era 90-an yang Ampuh Jaga Kesehatan Mental

KALTENG.CO-Generasi yang tumbuh besar pada era 1990-an pasti ingat betul bagaimana rasanya menjalani hari tanpa dering notifikasi ponsel pintar ataupun tekanan algoritma media sosial. Waktu berjalan terasa lebih lambat, dan interaksi interpersonal terjalin jauh lebih murni.

Di era modern ini, kita kerap terjebak dalam siklus doomscrolling yang melelahkan. Mengadopsi kembali kebiasaan lama khas generasi 90-an bisa menjadi solusi alternatif yang sangat efektif untuk mengatasi fenomena burnout akibat ketergantungan digital.

Pada era 90-an, masyarakat secara aktif terlibat dalam berbagai aktivitas fisik dan kreatif berbasis komunitas. Tanpa disadari, rutinitas sederhana tersebut bertindak sebagai tameng alami yang melindungi kesehatan mental dari stres dan kecemasan ekstrem.

Melansir dari laman YourTango, kembalinya tren aktivitas nostalgia ini membuktikan bahwa hobi jadul era 1990-an memiliki dampak yang luar biasa positif bagi psikologis kita. Bahkan, sebuah studi dalam the Journal Of Positive Psychology menemukan bahwa melakukan aktivitas kreatif kecil setiap hari secara signifikan mampu meningkatkan suasana hati serta memicu emosi positif yang bertahan hingga keesokan harinya.

Bagi Anda yang ingin rehat sejenak dari hiruk-pikuk dunia maya, berikut adalah 10 hobi kuno khas era 1990-an yang terbukti ampuh menjaga kesehatan mental Anda tetap stabil dan sehat:

1. Menulis Buku Harian atau Diary (Journaling)

Sebelum ada status media sosial atau cuitan di X (Twitter), remaja era 90-an menumpahkan seluruh keluh kesah mereka di atas lembaran kertas diary. Menulis dengan tangan terbukti secara ilmiah membantu otak memproses emosi dengan lebih baik, mengurangi kecemasan, dan menjadi sarana katarsis yang sangat privat tanpa takut dihakimi oleh netizen.

2. Mengoleksi dan Mendengarkan Musik Lewat Rilisan Fisik

Ingat masa-masa memutar kaset pita menggunakan walkman atau mendengarkan CD lewat discman? Menikmati musik era dulu menuntut kita untuk hadir sepenuhnya. Kita membaca lirik di buklet kaset, menikmati album dari lagu pertama hingga akhir tanpa interupsi iklan atau godaan untuk melewati (skip) lagu. Fokus ini memberikan ketenangan tersendiri bagi pikiran yang jenuh.

3. Fotografi Analog (Kamera Klise)

Kamera digital dan smartphone membuat kita bisa mengambil ratusan foto dalam semenit lalu langsung menghapusnya jika kurang estetik. Era 90-an mengajarkan kita seni menghargai momen lewat kamera analog. Keterbatasan rol film (yang biasanya hanya berisi 24 atau 36 jepretan) memaksa kita berpikir matang sebelum menekan tombol rana. Proses menunggu hasil cetak foto pun memberikan sensasi antisipasi positif yang menyenangkan.

4. Merajut dan Menyulam (Crafting)

Hobi membuat kerajinan tangan seperti merajut (knitting) atau menyulam sempat menjadi tren besar. Aktivitas ini melibatkan gerakan motorik repetitif yang menyerupai meditasi. Fokus pada pola rajutan terbukti mampu menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dan mengalihkan pikiran dari kecemasan berlebih.

5. Mengisi Teka-Teki Silang (TTS)

Sebelum ada gim online yang kompetitif dan memicu adrenalin, koran minggu atau buku saku Teka-Teki Silang (TTS) adalah hiburan utama yang ramah di kantong. Mengisi TTS tidak hanya mengasah otak dan mencegah demensia, tetapi juga melatih kesabaran serta memberikan kepuasan instan ketika berhasil memecahkan sebuah petunjuk kata.

6. Berkebun dan Merawat Tanaman

Menyentuh tanah, menyiram tanaman hias di pekarangan, atau menanam sayuran hidroponik sederhana adalah aktivitas fisik yang sangat membumi (grounding). Berinteraksi dengan alam terbukti menurunkan tekanan darah dan memberikan rasa damai yang tidak akan pernah bisa didapatkan dari layar gawai.

7. Membaca Buku Fiksi atau Komik Fisik

Menenggelamkan diri dalam lembaran buku novel atau komik legendaris era 90-an memberikan ruang bagi imajinasi untuk berkembang bebas. Membaca buku fisik sebelum tidur juga terbukti memperbaiki kualitas tidur karena mata terbebas dari paparan blue light yang dipancarkan oleh layar ponsel.

8. Memasak dan Membuat Kue dari Buku Resep

Alih-alih memesan makanan lewat aplikasi ojek online, luangkan waktu di akhir pekan untuk memasak dari awal. Proses memotong bahan, menakar bumbu, hingga mencium aroma masakan yang matang di dapur merangsang seluruh indra kita untuk aktif secara positif. Ini adalah salah satu bentuk self-care terbaik.

9. Bersepeda Santai Keliling Lingkungan Rumah

Di era 90-an, sore hari adalah waktu terbaik untuk bersepeda bersama teman atau tetangga sekitar rumah. Anda bisa menghidupkan kembali kebiasaan ini secara personal. Bersepeda santai tanpa target jarak atau kecepatan—cukup untuk menikmati angin sore—dapat melepaskan hormon endorfin yang memicu rasa bahagia.

10. Membuat Kliping Kliping Koran atau Majalah

Mengumpulkan artikel menarik, resep masakan, atau foto idola dari majalah bekas untuk ditempelkan ke sebuah buku besar adalah hobi kreatif yang sangat populer dulu. Aktivitas memotong dan menempel ini melatih fokus visual serta estetika manual, memberikan jeda total bagi otak Anda dari stimulasi digital yang berlebihan.

Kembali ke masa lalu bukan berarti kita menolak kemajuan teknologi. Namun, meminjam kearifan lokal dari era 1990-an melalui hobi-hobi minim gawai ini bisa menjadi ritual digital detox yang menyelamatkan kesehatan mental kita.

Mulai hari ini, cobalah pilih satu hobi di atas, matikan ponsel Anda selama satu jam, dan rasakan kembali damainya hidup tanpa intervensi algoritma. Selamat mencoba! (*/tur)

Related Articles

Back to top button