Jejak Frans Antoni, Pengendali Uang Fredy Pratama yang Ditangkap Bareskrim Polri di Malaysia

KALTENG.CO-Eksekusi mati Freddy Budiman di Lapas Nusakambangan satu dekade lalu memang menjadi penutup salah satu babak kelam peredaran narkoba yang melibatkan oknum aparat di Indonesia. Namun, hilangnya Freddy Budiman bukan berarti akhir dari perburuan.
Saat ini, nama Fredy Pratama berada di baris paling atas dalam daftar buronan kakap yang paling dicari oleh penegak hukum lintas negara.
Masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak tahun 2014, pria yang akrab disapa Miming ini diduga kuat mendapat perlindungan dari kartel internasional di Thailand. Meski mengendalikan operasi dari luar negeri, jaringan Fredy tetap aktif menyuplai barang haram ke Indonesia.
Namun, langkah kaki Fredy kini semakin sempit setelah Korps Bhayangkara secara masif melucuti satu per satu pilar penyokong dinastinya.
Penangkapan Frans Antoni: Jatuhnya Sang Arsitek Keuangan & Operasional
Titik terang terbesar dalam perburuan ini terjadi pada pertengahan Juni 2026. Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil membekuk Frans Antoni, figur sentral yang menjadi motor penggerak jaringan ini di Indonesia.
“Frans Antoni bukanlah pelaku biasa, melainkan pengendali keuangan, pengendali lapangan, dan pengendali operasional dari sindikat narkotika pimpinan Fredy Pratama,” jelas Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso.
Frans Antoni diketahui merupakan kawan lama Fredy Pratama yang sudah bersama-sama merintis jaringan ini sejak tahun 2009. Saat Fredy kabur ke luar negeri, Frans mengambil peran sebagai “agen ganda” yang mengurus peredaran di kota-kota besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi, sekaligus mengelola arus uangnya.
Strategi Pencucian Uang dan Pelarian Frans Antoni
Rekam jejak Frans Antoni terbilang sangat licin dalam menyembunyikan kekayaan hasil kortel ini:
Penyelundupan Uang Tunai: Dalam kurun waktu 2017–2023, Frans tercatat melakukan 168 kali perjalanan bolak-balik Indonesia-Thailand untuk mengantar uang tunai hasil bisnis narkoba. Dengan estimasi minimal Rp1 miliar per keberangkatan, total dana yang dibawa langsung ke Fredy mencapai sedikitnya Rp168 miliar.
Modus Pecahan Valas: Sebelum diterbangkan ke Thailand, uang rupiah diubah terlebih dahulu ke dalam mata uang Dolar Singapura. Frans diketahui menerima lebih dari SGD 1,2 juta dari kaki tangan bernama Kosnadi Irwan alias Uncle.
Melibatkan Keluarga: Frans memanfaatkan adiknya, Steven Antoni, untuk membuka berbagai rekening penampungan. Sementara istrinya, Perta Niasi, setia mendampinginya berpindah-pindah tempat persembunyian di Thailand di bawah perlindungan jaringan lokal Fredy.
Pelarian Frans dan istrinya akhirnya kandas di Malaysia pada Kamis, 18 Juni 2026 setelah kedapatan mencoba masuk secara ilegal. Frans langsung dideportasi ke Indonesia menggunakan pesawat Garuda Indonesia (GA-821) dan kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Bareskrim Polri bersama istrinya yang masih berstatus saksi.
Strategi “Potong Generasi”: Polri Lucuti Operasi Domestik
Sembari mengejar Fredy Pratama yang berada di luar negeri, Polri menerapkan strategi agresif dengan melumpuhkan rantai pasok dan menangkap ring satu sang gembong di dalam negeri. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sejumlah operasi besar berhasil menggulung kaki tangan Fredy:
1. Kronologi Penggagalan Pasokan Besar (2025–2026)
Februari 2026 (Polda Kalsel): Polisi menggerebek Hotel Midoo di Banjarmasin dan menangkap residivis berinisial IW. Dari tangan pelaku, disita 29,9 kilogram sabu dan 15.056 butir ekstasi.
April 2026 (Bareskrim & Polda): Dua kurir berinisial AS dan RH dicegat saat membawa 43,8 kilogram sabu. Mereka menyelundupkan barang tersebut melalui jalur darat dengan rute Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah – Kalimantan Selatan.
November 2025 (Polda Kalsel): Jaringan lintas provinsi yang digerakkan oleh SB, WC, dan ED (berasal dari Lampung, Bojonegoro, dan Pekanbaru) berhasil digagalkan dengan barang bukti 44,5 kilogram sabu dan 24.928 pil ekstasi.
2. Tumbangnya Ring Satu dan Keluarga Inti Fredy Pratama
Tidak hanya kurir lapangan, pilar-pilar penting pembentuk struktur bisnis Fredy juga telah diseret ke meja hijau:
Akhir dari Gurita Bisnis Internasional
Penangkapan beruntun terhadap figur-figur mahapenting seperti Kif, Lian Silas, hingga yang terbaru Frans Antoni, secara perlahan memotong urat nadi logistik serta finansial Fredy Pratama. Pria di balik pasokan 100 hingga 500 kilogram sabu per bulan ke Indonesia ini kini diyakini semakin terisolasi tanpa sokongan dana segar dari tanah air.
Polri menegaskan tidak akan menghentikan Operasi Escobar ini sampai sang gembong utama berhasil dipulangkan ke Indonesia.
“Polri berkomitmen menindak tegas setiap pelaku kejahatan narkotika, termasuk pihak-pihak yang berperan dalam pencucian uang hasil kejahatan. Kami akan terus mengejar para pelaku yang masih buron, termasuk Fredy Pratama, serta menyita aset-aset yang berasal dari hasil tindak pidana untuk memutus mata rantai kejahatan narkotika sampai ke akarnya,” pungkas Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir. (*/tur)



