BeritaHukum Dan Kriminal

Kemarau Kalteng Diprediksi Lebih Kering, BMKG: Puncaknya Agustus-September, Karhutla dan Asap Harus Diwaspadai

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kalimantan Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring sebagian besar wilayah provinsi ini telah memasuki musim kemarau. Bahkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026 dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan rata-rata normal.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani menjelaskan, berdasarkan pembaruan data hingga Dasarian II Juli 2026, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah sudah memasuki musim kemarau, termasuk Kota Palangka Raya.

Meski demikian, masih terdapat beberapa wilayah yang belum memasuki musim kemarau, yakni Zona Musim (ZOM) 13 yang meliputi wilayah pesisir Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kotawaringin Timur, serta ZOM 5 yang mencakup sebagian kecil wilayah Murung Raya bagian tenggara dan Barito Utara bagian utara.

“Sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah memang sudah memasuki musim kemarau, termasuk Kota Palangka Raya. Namun masih ada beberapa wilayah yang belum memasuki musim kemarau, yakni ZOM 13 di wilayah pesisir Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan dan Kotawaringin Timur, serta ZOM 5 di sebagian Murung Raya dan Barito Utara,” ujar Lian, Senin (27/7/2026).

Ia menjelaskan, awal musim kemarau di Kalimantan Tengah tidak terjadi secara bersamaan. Wilayah Kalimantan Tengah bagian tenggara atau ZOM 12 telah memasuki musim kemarau sejak Dasarian III Mei 2026. Sementara sebagian besar wilayah lainnya yang berada di ZOM 6 hingga ZOM 11 baru mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian III Juni.

“Puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah juga diperkirakan mengalami sifat musim kemarau bawah normal, artinya kondisi akan lebih kering dibandingkan rata-rata biasanya. Hanya sebagian wilayah Murung Raya bagian selatan dan sebagian kecil Barito Utara yang diprediksi bersifat normal,” jelasnya.

Lian menegaskan, musim kemarau bukan berarti hujan tidak akan turun sama sekali. Curah hujan masih berpotensi terjadi, namun frekuensinya jauh lebih sedikit dibandingkan musim penghujan. Kondisi tersebut membuat lahan, terutama lahan gambut, lebih mudah mengering dan rentan terbakar apabila terdapat sumber api.

“Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan, tetapi intensitas dan frekuensinya jauh berkurang. Karena itu masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun,” tegasnya.

Selain ancaman karhutla, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran yang mulai terjadi di sejumlah wilayah. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diminta lebih berhati-hati dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama, menggunakan masker apabila kualitas udara menurun, serta rutin memantau informasi cuaca resmi yang dikeluarkan BMKG,” pungkasnya. (oiq)

Related Articles

Back to top button