AKHIR PEKANSASTRA

Laki-Laki di Pertigaan

TIDAK semua dinding kamar bisa berbicara ketika penghuninya sudah tidak kuat menahan beban yang dipikul oleh pikirannya. Tetapi itulah terjadi pada laki-laki itu: dinding kamarnya berbicara pada tengah malam yang sepi dan memerintahkannya untuk melakukan perjalanan panjang.

Dan perjalanan panjangnya akan berakhir setelah bertemu dengan laki-laki yang merebut pasangannya. Mungkin dinding itu berbicara karena iba kepadanya setelah berhari-hari dia hanya berdiam diri di kamar: jarang makan dan tidak bisa tidur-dia memejamkan mata tetapi tidak pernah bisa tidur.

Sebenarnya, sejak kecil dia sudah suka menyendiri di kamar—membaca buku pelajaran atau mengerjakan tugas-tugas dari gurunya, dan jarang bermain dengan anak-anak lain. Mungkin kebiasaan ini menjadikannya anak pandai di sekolah. Dia dengan mudah memperoleh nilai bagus.

Dia juga mudah memperoleh pekerjaan-ketika seleksi penerimaan guru fisika, nilainya tertinggi. Tetapi, dia tidak mudah memperoleh pasangan dan ibunya yang harus turun tangan dalam urusan ini dan dia dinikahkan dengan anak sahabat ibunya.

Dia suka perempuan pilihan ibunya karena perempuan itu cantik. Ibu si perempuan, mertuanya, juga senang punya menantu dia karena dari dulu mertuanya itu mengidam-idamkan menantu PNS—dia guru fisika PNS.

Tetapi, beda dengan si perempuan. Cinta si perempuan tidak pernah tumbuh untuknya. Waktu seperti tidak bisa meluluhkan hatinya—dari hari ke hari bukannya rasa cinta yang tumbuh, justru rasa benci bertumpuk kian tebal menjadi gunung nyali yang meletuskan niatnya pergi meninggalkan suami dan keluarganya. Wanita itu pergi dengan laki-laki lain.

Sebenarnya, laki-laki itu tahu istrinya dibonceng laki-laki lain. Dia tidak sengaja melihatnya ketika pulang lebih awal dari sekolahnya untuk menghadiri rapat di sekolah lain. Dia baru sadar istrinya meninggalkannya setelah sampai malam istrinya tidak pulang. Besoknya tidak pulang, lusanya tidak pulang, dan tidak pernah pulang pada hari-hari berikutnya. Mertuanya juga tidak tahu anaknya itu pergi ke mana, juga tidak tahu pergi dengan siapa.

Guru-guru lain di sekolahnya tidak ada yang tahu masalah yang dihadapinya. Mereka hanya tahu akhir-akhir ini dia sering absen. Berhari-hari dia membenamkan diri di kamar, sampai pada tengah malam sepi. Dinding kamarnya berbicara dan siapa pun tidak bisa menghalanginya melakukan perjalanan panjang.

***

1 2 3Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button