Laki-Laki di Pertigaan

Siang itu tidak ada mendung sama sekali—matahari memanaskan permukaan jalan dan permukaan jalan memanaskan telapak kakinya. Laki-laki itu berhenti di pertigaan, di bawah beringin, di tepi sungai yang airnya bening. Kakinya berpijak pada akar beringin menyembul di dinding sungai. Kedua tangannya dicelupkan ke air, dan dia minum dengan kedua telapaknya.
Setelah minum perutnya tetap lapar. Dari kemarin dia belum bertemu warung. Biasanya dia minta makan dan minum di warung dan pemilik warung selalu memberinya. Dia segera pergi setelah mendapatkan makan dan minum dan pemilik warung tidak pernah memintainya uang.
Lapar membuatnya berjalan menuju salah satu rumah warga di dekat pertigaan. Terlihat wanita tua sedang menapih beras di teras. Dia menghampiri perempuan itu dan memberi isyarat dengan jari-jari tangan kanannya dimasukkan ke mulut.
Beras di nampannya dituang ke ember, tampaknya dia sudah selesai menapih, kemudian menyandarkan nampannya di tiang teras kemudian masuk ke rumah. Sebentar saja dia sudah keluar dengan membawa nasi dibungkus daun. Laki-laki itu membawa bungkusan ke pertigaan, dia makan di bawah pohon beringin.
Pohon beringin yang rindang, air sungai yang bening, siang yang tanpa awan, dan perempuan tua di dekat pertigaan—yang selalu memberinya makan, membuat laki-laki itu kerasan.
Sudah tiga hari dia tinggal di situ. Malam hari dia juga tidur di situ, di bawah beringin berbantal batu—sebenarnya bukan tidur, dia hanya memejamkan mata, dia tidak pernah bisa tidur.
Orang-orang yang melintas di pertigaan tidak ada yang memperhatikan laki-laki itu. Kalau pun ada, mereka hanya melihatnya sekilas. Beda dengan orang-orang melintas, laki-laki itu menatap lekat-lekat, dengan tatapan mata yang tidak pernah tidur, setiap orang yang melintas.
Dan tatapan tidak pernah tidurnya segera berubah menjadi tatapan predator kepada mangsanya bila melintas motor yang di atasnya berboncengan laki-laki perempuan.
Tatapan itu akan tetap menempel sampai mereka tidak tampak lagi. Bukan di pertigaan ini saja, sejauh perjalanannya, tatapannya selalu seperti itu kepada setiap laki-laki perempuan yang berboncengan.
Orang-orang kampung tidak ada yang tahu siapa sebenarnya laki-laki itu, mungkin tidak terlalu penting bagi mereka. Orang-orang kampung juga tidak tahu kalau dia menyelipkan sebilah parang di ikat pinggangnya, di balik kaus yang berwarna debu. Parang itu sudah menjadi pasangannya selama berkilo-kilometer perjalanan panjangnya. Dia memperolehnya saat disalip pedagang parang keliling.
Awalnya dia hanya membuntuti pedagang parang itu dan menganggapnya sebagai orang bernasib sama, sama-sama melakukan perjalanan. Ketika pedagang parang itu meninggalkan gerobak dagangannya dan masuk toilet masjid, dia tergoda mengambil salah satu parang.
Sebenarnya dia bisa mengambil berapapun semaunya dan dia yakin pedagang parang itu—seperti pemilik warung yang dimintai makan selama perjalanan—tidak akan memintainya uang. Dia hanya mengambil satu: lebih mudah membawa dan merawatnya: tidak perlu banyak tenaga dan waktu untuk mengasahnya.



