Laki-Laki di Pertigaan

Memang benar yang dia lakukan, ketika kamu melakukan perjalanan panjang, kamu tidak tahu apa akan terjadi di perjalanan. Kamu perlu membawa senjata berjaga-jaga.
Bila suatu saat nanti dikatakan dinding kamarnya benar: dia bertemu laki-laki membonceng pasangannya dan laki-laki itu tidak membiarkan pasangannya turun dari motor untuk diajaknya pulang, parang itu bisa menyelesaikan semuanya.
Parang yang tajam adalah pasangan yang baik. Air sungai yang bening dan batu yang dipakai bantal membuatnya ingin menjadikan parang di balik kausnya sebagai pasangan baik—parang itu diasah pada batu dengan diperciki air sungai yang bening.
Orang-orang yang melintas di pertigaan menengok mendengar suara parang digesekkan. Sejak itu orang-orang kampung lebih memilih jalan melingkar dari pada harus bertemu laki-laki itu di pertigaan.
Apalagi setelah laki-laki itu menjadi tidak tenang dan suka berteriak-teriak, mungkin karena lapar, pertigaan itu menjadi tempat yang menakutkan untuk dilewati.
Perempuan tua yang biasanya memberinya makan, rumahnya selalu terkunci sejak tahu laki-laki itu membawa parang, begitu pula rumah-rumah lain di sekitar pertigaan.
Orang-orang kampung tahu siapa mampu mengatasi ketakutan itu dan mampu mengembalikan keadaan pertigaan seperti sebelumnya. Dia adalah Julik, orang yang baru saja pulang dari perantauan.
Tidak seperti orang-orang yang ketika pulang dari perantauan membeli tanah, rumah, sapi atau apa pun itu untuk menunjukkan kepada tetangga-tetangganya dia berhasil di tanah rantau, Julik pulang membawa mantra-mantra.
Mantra-mantra yang dicecapnya dari orang-orang sakti di tanah rantau itu katanya berkhasiat untuk membereskan apa saja. Baru tiga bulan dia pulang, sudah banyak orang yang datang kepadanya—mantra-mantra itu yang membuat mereka datang.
Ada yang minta disembuhkan penyakitnya. Ada yang minta dibantu mendapatkan pekerjaan, ada pula yang minta dibantu meluluhkan hati perempuan.
Memang tidak semua orang datang kepadanya terpenuhi semua permintaannya, tetapi mereka yang sembuh dari penyakit, mendapat pekerjaan, dan mendapatkan pasangan, menganggap Julik sebagai orang sakti. Bahkan, beberapa dari mereka minta diangkat menjadi murid. Dan Julik menasbihkan diri menjadi guru spiritual di kampung itu.
Sang guru spiritual datang ke pertigaan dengan diiring murid-muridnya. Ia mendekati laki-laki itu dengan menggumamkan mantra-mantra. Laki-laki yang sebelumnya berteriak-teriak karena lapar itu menyambutnya dengan senyum dan tatapannya yang tidak pernah tidur. “Dia akan memberiku makan,” katanya dalam hati.
‘’Berikan parang itu!” kata sang guru spiritual sambil mengulurkan tangan dan tetap menggumamkan mantra-mantra. Laki-laki itu menyingsingkan kaus debunya, memegang gagang parang dan mencabut dari ikat pinggangnya, kemudian menebaskan parang itu berkali-kali.
Tatapan tidak pernah tidurnya berubah menjadi tatapan predator kepada mangsanya dan senyumnya berubah menjadi gemeretak gigi. Parang itu sudah menjadi pasangan dalam perjalanan panjangnya dan dia akan melawan siapa pun yang merebutnya. Sungai mengalirkan air bening di bawah beringin itu menjadi merah: mengalirkan darah dan potongan tubuh sang guru spiritual.
Murid-murid sang guru spiritual kabur sejauh-jauhnya. Tetapi mereka tidak membiarkan begitu saja orang yang telah memotong-motong guru mereka: yang menyembuhkan sakit, memberinya pekerjaan, dan menemukan jodoh untuk mereka.
Mereka membuntuti laki-laki itu sampai di perbatasan kampung. Mereka datang bukan dengan mantra-mantra yang digumamkan lagi, tetapi dengan panah dan tombak dan menancapkannya di punggung laki-laki itu sebelum ia mencabut parang yang terselip di ikat pinggang, di balik kaus berwarna debunya. (*)
Suwito Adi Prasetyo
Kelahiran Bojonegoro. Penulis buku “Aku Manusia dari Anak Manusia” tahun 2015



