AKHIR PEKANBeritaSASTRA

Rumah Itu, Rumah Opium

AKU sedang berada di depan gerbang rumah besar, mencari-cari tombol bel pintu ketika sebuah mobil berbelok dan lampunya menyorot persis pada gerbang di depanku. Spontan aku berbalik, tanganku melindungi mata dari silau lampu. Seorang lelaki muda turun dari jok kemudi. Ia kurus, tetapi terlihat kuat dan liat. Bergegas ia mendekat padaku.

Anda mencari siapa?” ia bertanya.

”Saya mencari pemilik rumah ini, Pak,” kataku sedikit membungkuk.

”Ada perlu apa?”

”Hanya berkunjung, Pak.”

”Maaf, rumah ini tidak menerima tamu tidak penting,” katanya kemudian kembali masuk mobil dan tak lama berselang gerbang dibuka dari dalam. Aku menepi. Tanpa hirau padaku mobil hilang di balik gerbang yang kembali tertutup. Senyap.

Aku meninggalkan rumah itu tanpa tergesa. Berjalan menyusur gang-gang yang nyaris kuhafal dan tahu siapa pemilik rumah-rumah berpintu kayu kukuh di wilayah ini.

Hampir semua rumah itu pernah aku sambangi karena memang sedang disiapkan menjadi destinasi wisata bagi pencinta bangunan tua dan aku adalah salah satu konsultannya di bagian narasi sejarah.

Beberapa di antara rumah itu hanya dihuni pegawainya, orang-orang kepercayaan, tukang kebun, atau siapa pun yang hanya dikunjungi pemiliknya sekian bulan sekali. Dari semua pemilik rumah tua itu, ada yang kukenal cukup dekat, salah satunya rumah peninggalan Nio Am yang dibangun oleh beberapa generasi sebelumnya.

Dia kawan dekat  A ma –nenekku. Mereka sama-sama merintis usaha batik di Lasem ini.

Memang kebanyakan warga peranakan di sini membuka usaha batik pada masa itu. Beberapa di antara mereka masih berlanjut. Selebihnya rumah-rumah pembatikan dibiarkan mangkrak seperti milik A ma-ku.

Usaha batik Nio Am dilanjutkan keturunannya hingga sekarang, tetapi usaha batik A ma terkapar. Bagi keturunan Nio Am, aku adalah anak yang mendurhakai impian keluarga.

Berkali-kali mereka membujukku agar mau membangkitkan usaha batik dari kematian, tetapi aku menolak. Aku merasa tak punya bakat menjalankan produksi batik. Aku cukup senang usaha batik yang dijalankan keturunan Nio Am tetap mampu bersaing di zaman crypto dan bitcoin ini.

Aku lebih memilih mencari sebab mengapa di masa lalu beberapa penduduk kota kecilku ini keluarganya mudah diporak-porandakan. Hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan tekanan dari penguasa waktu itu karena kami China.

Aku ingin tahu apa sebab A kong –kakekku– sering dijemput orang lalu dikembalikan dalam keadaan linglung, aku ingin tahu apa sebab papaku sering ketakutan setelah membaca surat kabar, dan aku ingin tahu mengapa mama bunuh diri. Terlalu muda usiaku waktu itu untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam keluargaku, di sini di kota kecil ini.

Aku memutuskan pergi meninggalkan kota ini dan bertekad menjadi orang yang mengamati dari jauh. Karena membutuhkan jarak dan menjadi yang dilupakan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu.

Aku pindah sekolah lalu kuliah di beda-beda kota sambil terus mengamati kotaku, baik dari perkembangannya maupun sejarahnya. Termasuk sejarah keluargaku. Rupanya waktu itu A kong menjadi sapi perah penguasa.

Butuh waktu lebih dari tiga dekade untuk berani kembali menginjakkan kaki ke Lasem ini dan kedatanganku ke rumah tadi untuk meluruskan silsilah masalah. Aku tak berniat membalas dendam dan sepertinya aku tak mampu.

Tidak mungkin aku bisa membuatnya bangkrut, tetapi setidaknya aku bisa membuat tidurnya terganggu hanya dengan mengembalikan ingatan-ingatannya.

Entahlah, apakah nanti aku bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan kejahatan yang mereka lakukan pada A kong dan A ma, pada papa dan mamaku, aku tak yakin. Meskipun sebenarnya aku sudah menganggap itu bagian dari sejarah persaingan bisnis dan adu panjang lidah untuk menjilat penguasa.

Rupanya zaman tak menggeser posisi rumah yang berusia dua ratus tahun itu. Tentu saja bukan hanya karena di pintu gerbangnya tertulis huruf China yang bermakna panjang umur dan makmur kaya raya, tetapi karena hingga sekarang penghuni rumah itu masih menempel pada penguasa.

Di abad lalu, di permukaan mereka menjadi abdi, tetapi di dalam rumah mereka menyimpan dan mengoperasikan bisnis opium di pasar dunia. Hanya keluarga A kong yang tahu bagaimana mereka mengurus dan mendistribusikan opium lewat jalur-jalur rahasia yang hanya bisa dipahami oleh orang yang tahu batas antara hidup dan mati, langit dan bumi.

Usaha batik mereka hanya tudung untuk menyembunyikan usaha yang lebih besar lagi di lorong-lorong dunia.

1 2 3Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button