ALL SPORTBeritaNASIONALSport

Tragedi Stadion Kanjuruhan, Cak Nun Berharap TGIPF Objektif

Di Jogja, misalnya, ada klithih. Begitu banyak anak-anak muda mati karena klithih. Tapi, tidak pernah mawas diri. Tidak pernah diskusi kaum pendidik, tidak pernah ada diskusi pemerintah untuk menganalisa, opo toh klithik iki? Semalam saya di Magelang, itu ada anak SMP kelas 1 membunuh teman sekelasnya, itu hanya karena handphone. Itu harus ada diskusi untuk mawas diri.

Harus ada tiga level diskusi. Jadi, judul kita adalah diskusi mawas diri. Satu level masyarakat, harus ada forum-forum kecil, yang berusaha objektif untuk menyimpulkan, iki opo toh kedadian iki. Lalu, level kedua, diskusi yang agak resmi, kaum intelektual, para pakar, para ahli. Terus yang paling puncak adalah diskusi atau simposium resmi yang sangat serius, sangat sungguh-sungguh, apa itu klithih, apa itu pembunuhan-pembunuhan, apa itu kasus Kanjuruhan dan seterusnya.

Kita harus menunjukkan bahwa kita adalah warga negara sebuah negara modern. Yang dibilang orang Jawa, negoro mowototo. Mowototo adalah satu susunan organisasi yang disebut negara, yang punya konstitusi, yang punya pagar, punya falsafah, filosofi, punya aturan-aturan, punya Keppres, punya perda, punya macam-macam. Termasuk aturan-aturan dalam persepakbolaan. Itu mowototo namanya. Itu kita lihat kembali, kita rekap kembali, ada yang kurang tidak.

Misalnya, prosedur mengenai gas air mata. Itukan harus dilihat lagi. Karena ada kemungkinan polisi yang menembakkan gas air mata di dalam stadion itu mungkin pasti salah itu. Gas air mata boleh disemprotkan di mana, diledakkan di mana, seharusnya kan ada aturan mainnya. Jangan sampai suporter sepak bola disamakan dengan teroris. Dan, jangan sampai menyelamatkan orang lain dengan cara membunuh salah satu.

Pengamanan itukan dilakukan dengan cara yang tidak kekerasan, tidak kekejaman. Tapi, secara budaya dan psikologi, yang bisa menghentikan, meredakan amarah, di antara kedua belah pihak. Bukan saya pukuli, supaya tidak bisa mukul. Bukan saya gas air mata, untuk tidak bisa tawur. Dan itu harus ada diskusi, agar ada pembenahan kembali. Harus ada teori mengenai mawas diri secara nasional.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button