
Ini tragedi kenegaraan bisa, karena negara yang tidak tertata. Tragedi sepak bola dalam arti yang luas, bukan hanya di lapangan. Tapi, persepakbolaan sebagai kebudayaan, sebagai ekspresi, olahraga sebagai bagian dari bebrayan dan peradaban, bisa kalau itu. Tapi, kalau disebut tragedi ini sepak bola, kan bukan? Karena bukan pemain sepak bola yang bikin tragedi dan menjadi korban tragedi. Kan semua pemain Persebaya maupun Arema sudah dievakuasi masuk ke ruangan. Jadi, bukan tragedi sepak bola. Tragedi tatanan.
Nanti kita lihat diskusi-diskusi, dalam prosesnya harus objektif dan tepat melihat ke titik sumbernya. Sangkan parannya, atau dunungnya, atau asal usulnya, ini yang mana ini. Karena kan ada banyak faktor. Misalnya, ada yang dipertanyakan, kenapa kok tidak sore, kenapa kok malam? Karena tv, gitu kan. Butuh tayangan tv. Jadi, karena kerakusan kapitalisme. Jadi, ada faktor bermacam-macam.
Nah, itu tim peneliti atau penyidik, harus memiliki pandangan seluas-luasnya. Supaya kita menemukan titik yang tepat. Supaya besok tidak terulang lagi. Dan kita jaganya di titik yang tepat itu. Kita lihat Indonesia akan mengantisipasi kasus ini dengan prinsip dan kesadaran mawas diri apa tidak. Sebab, ini bukan hanya urusan kemarin atau hari Minggu. Tapi, juga urusan hari besok.
Kalau kita tidak mawas diri, kita tidak menemukan inti atau sumber permasalahannya, dan ini bukan hanya soal sepak bola saja, sepak bola itu hanya ketempatan kerusuhan saja, Jadi, bukan sepak bolanya, sepak bolanya kita teruskan. Tapi, budaya suporter, budaya masyarakat, budaya sepakbolanya yang kita benahi. Temukan titik yang tepat, supaya besok tidak terjadi lagi. Itu yang kita tunggu. Bukan karena rusuh, terus kemudian sepak bola diharamkan. Nggak begitu. (*/tur)



