
Dalam hal ini, negara kan diwakili kepolisian. Jadi, kita menunggu prosesnya. Sampai saya juga ngintip ke Mabes Polri bagaimana. Saya mencoba mendengarkan apa yang mereka lakukan untuk ini.
Karena sesuai dengan judul tadi, lalu saya WA kepada kepala kepolisian. Saya WA begini, pertama, jangan sampai menyatakan apapun yang sifatnya tidak objektif dan tidak bijaksana. Jadi, harus objektif dan bijaksana. Karena dia mewakili Polri sebagai organisasi pengamanan nasional. Harus objektif dan bijaksana.
Kedua, jangan sampai ada masyarakat yang menganggap maling berteriak maling kepada polisi. Misalnya, ngomong gas air mata itu seolah-olah begini, itukan ada yang mengatakan ini peracunan massal. Tapi, kita ini informasi mengenai berapa korban saja, sampai hari ini belum jelas. Ada yang 200 sekian, ada yang 100 sekian.
Tapi, cara berfikir kita sekarang, jangankan ratusan, jangankan puluhan, bocah loro (anak dua), tiga, empat orang, adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Nah, itu jangan sampai pihak kepolisian, terutama Kapolda, Kapolres atau syukur Kapolri, jangan sampai memberikan pernyataan yang tidak objektif dan tidak bijaksana sehingga bisa berbalik menjadi bumerang kepada Polri.
Jangan sampai ada akun Polsek yang bilang, modar. Itu akan menjadi tragedi bagi organisasi keamanan nasional. Jangan sampai ada polisi berfikir, modaro kowe. Jangan sampai ada yang seperti itu,
Ketiga, sekarang tim penanganan itukan dipimpin oleh Pak Mahfud MD. Kalau bisa, Pak Mahfud, entah dengan narasi bagaimana, meyakinkan kepada masyarakat bahwa itu tim objektif. Bukan tim Polri. Tapi, tim objektif dan independen. Sebab, kalau Polri, masih rawan tuduhan. Lho, mosok Polri punya kemungkinan salah juga, kok dia yang memimpin penyelidikan? Jadi, itukan tidak baik untuk preseden hukum nasional.
Keempat, kembalikan yang pertama tadi. Ini judulnya apa, ini tragedi sepak bola bukan, tragedi suporter sepak bola bukan, wong bukan ada tawuran antara Aremania sama Bonek kok? Itu meninggalnya kan harus diselidiki oleh tim kedokteran. Ini matinya sekian karena ini, sekian karena ini, ada yang terinjak-injak, efek dari chaos, terus ada yang mati karena gas.
Nah, terus sekarang harus ada pembenahan. Gas air mata itu kan sebenarnya alat untuk apa, gas yang ditembakkan itu. Itu kan mestinya untuk perang, untuk terorisme, bukan untuk suporter sepak bola. Harus ada pembenahan.
Jadi seacara garis besar begini, Polri harus merintis budaya mawas diri. Bayangin, mati segitu banyak anak-anak kita, kalau kita tidak mawas diri, kan bisa terulang lagi.



