ALL SPORTBeritaSport

Anti-Drama! Ini 6 Perubahan Regulasi FIFA di Piala Dunia 2026 untuk Berantas Time-Wasting

KALTENG.CO-Piala Dunia 2026 dipastikan tidak hanya megah karena diikuti oleh 48 negara, tetapi juga akan terasa jauh lebih cepat dan dinamis. FIFA bersama International Football Association Board (IFAB) resmi memperkenalkan paket regulasi baru yang siap mengubah lanskap pertandingan.

Fokus utamanya sangat jelas: mempercepat tempo permainan dan memberantas segala bentuk taktik mengulur waktu (time-wasting) yang selama ini sering merusak estetika sepak bola.

https://kalteng.co

Mulai dari hukuman ekstrem untuk kiper yang sengaja mengulur waktu hingga perluasan fungsi VAR, berikut adalah 6 perubahan aturan penting yang wajib Anda ketahui menjelang Piala Dunia 2026.

1. Selamat Tinggal Tactical Timeout Berkedok Kiper Cedera

Selama ini, kita sering melihat sebuah tren unik: ketika sebuah tim sedang digempur habis-habisan, penjaga gawang mereka tiba-tiba terjatuh dan meminta perawatan medis. Momen ini langsung dimanfaatkan oleh pemain lain untuk berlari ke pinggir lapangan, minum, dan mendapatkan instruksi taktis dadakan dari pelatih.

Di Piala Dunia 2026, praktik tactical timeout terselubung ini resmi dilarang.

Aturan Baru Saat Kiper Dirawat:

  • Pemain dari kedua tim dilarang keras mendekati bangku cadangan atau area pelatih.

  • Seluruh pemain harus tetap berada di dalam area permainan atau berkumpul di lingkaran tengah (center circle).

  • Wasit akan bertindak proaktif untuk menghalau pemain yang mencoba mencuri kesempatan berdiskusi dengan pelatih.

Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa perubahan ini dibuat demi menjaga sportivitas.

“Penjaga gawang berhak untuk cedera, tetapi para pemain tidak berhak meninggalkan lapangan untuk beristirahat sejenak bersama pelatih masing-masing. Aneh sekali melihat hanya wasit, fisioterapis, dan penjaga gawang yang ada di lapangan, sementara pemain lain pergi,” ujar Collina.

Meskipun tidak ada kartu kuning otomatis bagi yang melanggar, wasit memiliki otoritas penuh untuk mendisiplinkan pemain di lapangan.

2. Hitung Mundur 5 Detik untuk Lemparan ke Dalam

Menunda-nunda lemparan ke dalam (throw-in) kerap menjadi senjata ampuh untuk membuang waktu, terutama di menit-menit akhir laga. Mulai sekarang, pemain tidak bisa lagi santai saat memegang bola di tepi lapangan.

Jika wasit menilai seorang pemain sengaja menunda restart permainan tanpa alasan teknis yang jelas, hak lemparan ke dalam akan langsung dialihkan kepada tim lawan. Aturan ini diharapkan membuat sirkulasi bola mati menjadi jauh lebih cepat.

3. Ulur Waktu Tendangan Gawang? Siap-Siap Dihukum Sepak Pojok!

Ini adalah salah satu sanksi paling tegas dalam regulasi baru FIFA. Jika biasanya kiper yang mengulur waktu saat goal kick hanya dihadiahi kartu kuning, kini hukumannya jauh lebih instan dan merugikan tim.

Apabila tim yang bertahan sengaja memperlambat eksekusi tendangan gawang, wasit berhak memberikan sepak pojok (corner kick) kepada tim lawan.

Hukuman ini sangat krusial karena langsung mengubah situasi yang awalnya aman menjadi peluang emas bagi lawan untuk mencetak gol. Kehadiran aturan ini diprediksi akan membuat para kiper berpikir dua kali untuk mengulur waktu.

4. Aturan Ketat Pergantian Pemain dan Perawatan Medis

Proses pergantian pemain yang berjalan lambat bak model di atas catwalk juga menjadi sasaran tembak FIFA. Regulasi baru menetapkan batas waktu keluar lapangan yang sangat ketat.

  • Batas Waktu 10 Detik: Pemain yang diganti wajib keluar melalui titik garis lapangan terdekat dalam waktu maksimal 10 detik.

  • Sanksi Bermain dengan 10 Orang: Jika gagal keluar dalam waktu yang ditentukan, pemain pengganti dilarang masuk selama minimal 1 menit. Artinya, tim tersebut harus rela bermain pincang sementara waktu.

  • Aturan Perawatan Medis: Pemain yang mendapatkan perawatan medis di dalam lapangan juga diwajibkan berada di luar lapangan selama 60 detik sebelum diizinkan masuk kembali (kecuali untuk beberapa kondisi medis darurat tertentu).

5. Tutup Mulut Saat Konfrontasi? Bersiaplah Dikartu Merah

Pernahkah Anda melihat pemain berdebat sengit dengan lawan atau wasit sambil menutupi mulut mereka dengan tangan? Biasanya, ini dilakukan agar kamera atau pembaca bibir tidak bisa mengidentifikasi kata-kata kasar yang mereka ucapkan.

Di Piala Dunia 2026, menutupi mulut saat terlibat konfrontasi dapat digolongkan sebagai pelanggaran serius dan berujung kartu merah.

Pierluigi Collina mengonfirmasi bahwa aturan ini bersifat situasional dan fokus pada tensi pertandingan.

  • Percakapan Ramah: Pemain tetap boleh menutup mulut jika suasananya santai atau bercanda.

  • Situasi Konfrontatif: Jika terjadi ketegangan atau adu argumen, menutup mulut akan langsung dianggap sebagai indikasi tindakan yang sangat salah atau ofensif.

6. Perluasan Otoritas VAR pada Situasi Bola Mati

Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kini memiliki jangkauan tugas yang lebih luas. Sekarang, VAR dapat mengintervensi insiden yang terjadi sebelum bola dimainkan (dalam posisi dead ball) pada situasi sepak pojok atau tendangan bebas.

AspekKetentuan Baru VAR
Kriteria IntervensiPelanggaran jelas oleh tim penyerang sebelum bola ditendang.
Dampak InsidenHarus berdampak langsung pada gol, penalti, atau keputusan disiplin (kartu).
KonsekuensiWasit melakukan on-field review, memberikan sanksi kartu, dan mengulang kembali set-piece.

Dengan aturan ini, aksi saling tarik atau dorong di kotak penalti yang sering terjadi sebelum bola sepak pojok meluncur kini tidak akan lolos dari pengamatan mata digital VAR.

Langkah berani FIFA dan IFAB menyongsong Piala Dunia 2026 ini menunjukkan komitmen besar untuk menjaga sepak bola tetap menjadi tontonan yang menghibur dan bersih dari drama buang-buang waktu.

Bagi ke-48 tim peserta, adaptasi cepat terhadap enam aturan baru ini akan menjadi kunci utama jika tidak ingin merugi di panggung tertinggi sepak bola dunia. (*/tur)

Related Articles

Back to top button