
Dia juga mengeluhkan tarif penyeberangan yang terbilang tinggi. Seperti diketahui, pengusaha peri mematok tarif untuk truck Rp300 ribu, puso engkel Rp600 ribu, tronton dari Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. “Saya terpaksa meminta tambahan dengan bos. Tapi untuk biaya saya makan antre menunggu tak dihitung,” keluhnya.
Keinginan bisa dilintasinya Jembatan Alalak 1 juga disampaikan Udin. Sopir truk batu split asal Kabupaten Banjar ini meminta pemerintah mengizinkan hal tersebut. “Tinggal diatur mekanismenya. Truk kecil diperbolehkan, sementara truk besar dilarang. Ini bisa memangkas waktu antre,” cetusnya.
Di sisi lain, pengusaha peri LCT penyeberangan, Rannsya menerangkan, tarif yang dipatok pihaknya sesuai dengan biaya operasional. Dia menyebut, biaya tinggi untuk memfasilitasi para sopir angkutan tak hanya untuk membeli solar kapal. Namun membayar sewa dermaga.
Tak hanya itu, empat eksavator kecil sebutnya disewa untuk memfasilitasi bagian depan dermaga. “Untuk empat buah eksavator saja, dibutuhkan empat drum solar sehari. Belum lagi sewa alat berat dan operatornya yang nilainya Rp5 juta lebih sehari,” sebutnya.



