Bukan Malas, Ini Alasan Gen Z dan Milenial Bertahan di Pekerjaan Saat AI dan PHK Merajalela

KALTENG.CO-Pernahkah Anda merasa terlalu nyaman di kantor hingga sulit untuk berpindah, bahkan saat ada tawaran yang lebih baik? Fenomena ini punya nama baru: job hugging. Istilah yang mungkin asing ini sedang ramai dibicarakan karena mencerminkan pergeseran mentalitas kerja, terutama di kalangan Gen Z dan milenial.
Alih-alih sering berganti pekerjaan seperti tren sebelumnya, banyak pekerja muda kini memilih untuk “memeluk” pekerjaan mereka. Namun, apa sebenarnya job hugging itu dan mengapa tren ini muncul?
Mengapa Job Hugging Menjadi Tren?
Job hugging bukanlah sekadar bertahan di satu pekerjaan, melainkan sebuah bentuk keterikatan emosional dan psikologis. Menurut Ypulse, fenomena ini muncul sebagai respons terhadap berbagai tantangan di dunia kerja saat ini.
- Masuknya AI: Otomatisasi dan kecerdasan buatan mulai mengambil alih posisi entry-level, membuat banyak pekerjaan terasa lebih berharga dan sulit dicari.
- Ketidakpastian Pasar: Setelah gelombang Great Resignation dan gelombang PHK yang meluas, pekerja menjadi lebih berhati-hati. Keamanan kerja kini menjadi prioritas utama.
- Pekerjaan sebagai Bagian Gaya Hidup: Banyak perusahaan kini menawarkan lingkungan kerja yang nyaman, mulai dari fasilitas hingga rutinitas fleksibel, membuat kantor terasa seperti “rumah kedua”. Ini menumbuhkan rasa kepuasan personal yang lebih dalam dari sekadar gaji.
Sebagai hasilnya, banyak pekerja muda kini lebih mengutamakan keamanan daripada pertumbuhan karier yang agresif. Mereka hanya akan pindah jika ada ketidakpuasan yang sangat besar atau tawaran gaji yang jauh lebih menggiurkan.
Tanda-Tanda Perilaku Job Hugging
Apakah Anda termasuk seorang job hugger? Menurut The Daily Jagran, berikut adalah beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan:
- Selalu Menerima Tugas Tambahan: Anda cenderung sulit menolak pekerjaan tambahan, meskipun sudah melebihi kapasitas. Hal ini sering kali didorong oleh rasa takut untuk mengatakan tidak, demi membuktikan nilai diri.
- Menghindari Proyek atau Peran Baru: Anda merasa enggan atau menolak saat ada kesempatan untuk mengambil peran baru yang berada di luar zona nyaman. Anda lebih memilih jalur yang sudah familiar dan terasa aman.
- Memilih Keamanan daripada Pertumbuhan: Rasa aman dalam pekerjaan saat ini menjadi prioritas utama, mengalahkan keinginan untuk mengembangkan keterampilan atau naik ke jenjang karier yang lebih tinggi. Anda khawatir tidak bisa mendapatkan peluang lain jika meninggalkan posisi sekarang.
Menyikapi Job Hugging secara Bijak
Menjadi seorang job hugger bukanlah hal yang salah, apalagi di tengah kondisi dunia kerja yang tidak pasti. Namun, penting untuk mengenali kapan rasa nyaman ini mulai membatasi potensi diri Anda.
Kuncinya adalah menjaga keseimbangan. Sadari bahwa rasa aman yang berlebihan bisa menjadi jebakan yang menghambat Anda untuk belajar hal baru atau meraih peluang yang lebih besar. Gunakan keamanan yang Anda rasakan sebagai landasan untuk merencanakan langkah selanjutnya, bukan sebagai alasan untuk stagnan.
Mengenali tanda-tanda job hugging dapat membantu Anda membuat keputusan yang lebih bijak: kapan harus bertahan dan kapan harus berani melangkah keluar dari zona nyaman demi pertumbuhan karier yang berkelanjutan. (*/tur)



