BeritaHIBURANMETROPOLIS

Film Biografi Michael Jackson Dinilai Tidak Utuh, Hanya Fokus Hingga Era 80-an.

KALTENG.CO-Dunia perfilman global tengah diguncang oleh perdebatan panas mengenai film biografi terbaru Sang Raja Pop, Michael Jackson. Berjudul ‘Michael’, film ini diprediksi akan menjadi monster box office dengan estimasi pendapatan mencapai USD 70 – 110 juta (sekitar Rp 1,2 – 1,9 triliun) hanya pada pekan perdana penayangannya.

Namun, kesuksesan komersial tersebut berbanding terbalik dengan penilaian para pakar sinema. Hingga saat ini, film ‘Michael’ secara mengejutkan hanya mengantongi skor 35% di platform Rotten Tomatoes. Kesenjangan drastis antara antusiasme penonton dan kritik pedas ini memicu pertanyaan besar: Apa yang salah dengan film ini?

Berdasarkan ulasan dari The Express Tribune, berikut adalah 4 alasan utama mengapa film biopik ‘Michael’ gagal memikat hati para kritikus:

1. Narasi yang Terlalu “Memuja” dan Minim Konflik

Kritik utama yang muncul adalah pendekatan narasi yang dianggap terlalu mengagungkan sosok Michael Jackson. Film ini dinilai hanya menonjolkan sisi terang sang bintang tanpa memberikan keseimbangan naratif yang objektif.

Kritikus film Nicholas Barber bahkan menyebut karya ini kurang kompeten dalam membangun emosi penonton. Tanpa adanya ketegangan dramatis dan konflik yang kuat, alur cerita terasa datar dan kehilangan kedalaman emosional yang seharusnya menjadi ruh dari sebuah film biografi.

2. Pemotongan Periode Kehidupan yang Signifikan

Satu hal yang paling disayangkan oleh para pengulas adalah batasan waktu cerita. Film ini diketahui hanya berfokus pada perjalanan hidup Michael hingga pertengahan tahun 1980-an.

Keputusan untuk mengabaikan fase kehidupan pasca-80-an dianggap sebagai kesalahan besar. Mengingat kompleksitas dan berbagai peristiwa penting yang terjadi di sisa hidup Michael, penghilangan periode tersebut membuat film terasa “terpotong” dan kehilangan konteks luas mengenai warisan serta perjuangan hidup sang legenda secara utuh.

3. Karakter yang Kurang “Bernyawa”

Meskipun Jaafar Jackson mendapatkan pujian karena kemiripan fisiknya yang luar biasa dengan pamannya, para kritikus menilai performanya masih dangkal secara psikologis. Aktingnya dianggap lebih mengandalkan personifikasi visual daripada pendalaman emosi yang kompleks.

Kondisi ini diperparah dengan karakter pendukung yang diperankan oleh aktor papan atas seperti Colman Domingo, Nia Long, dan Miles Teller, yang dinilai tidak mendapatkan ruang pengembangan karakter yang memadai. Hasilnya, interaksi antar-tokoh terasa hambar dan gagal memberikan dampak emosional kepada audiens.

4. Dialog Lemah dan Gagalnya Rekonstruksi Artistik

Kualitas naskah juga tak luput dari sasaran kritik. Dialog dalam film ‘Michael’ dinilai kurang bernuansa dan tidak mencerminkan kecerdasan atau kepribadian karakter aslinya.

Lebih jauh lagi, upaya film ini dalam merekonstruksi video musik ikonik Michael Jackson dianggap gagal menangkap energi artistik yang autentik. Kritikus dari Rolling Stone menyoroti bahwa upaya tersebut justru terlihat seperti imitasi yang kehilangan “jiwa”, sehingga gagal merepresentasikan kejeniusan seni Michael Jackson secara maksimal.

Meski ‘Michael’ dipastikan akan menarik jutaan penggemar ke bioskop karena faktor nostalgia dan nama besar, film ini tampaknya kesulitan untuk diakui sebagai karya sinematik yang berkualitas tinggi di mata para kritikus profesional. (*/tur)

Related Articles

Back to top button