
KALTENG.CO-Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel di kawasan Timur Tengah bukan lagi sekadar konflik regional. Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri, memberikan peringatan keras bahwa dampak dari eskalasi ini akan memicu gelombang krisis ekonomi yang dirasakan secara global.
Dalam sebuah temu media di kediamannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026), Aldhaheri menegaskan bahwa Indonesia tidak berada dalam posisi yang aman dari efek domino konflik tersebut.
Indonesia Tidak Kebal: Krisis Energi dan Rantai Pasok
Aldhaheri menjelaskan bahwa ancaman utama bagi negara-negara seperti Indonesia bukanlah serangan militer langsung, melainkan guncangan ekonomi yang hebat. Hal ini dipicu oleh terganggunya rantai pasokan dunia dan lonjakan harga energi yang tak terhindarkan.
“Saya perlu mengatakan, Indonesia tidak kebal pada kondisi ini,” ujar Aldhaheri.
Data menunjukkan betapa krusialnya kawasan Timur Tengah bagi stabilitas Asia:
Selat Hormuz: Menjadi jalur bagi 20% suplai minyak dunia dan 20% perdagangan LNG global.
Ketergantungan Asia: Sekitar 80-90% dari ekspor energi yang melalui selat tersebut ditujukan ke pasar Asia.
Gangguan pada jalur distribusi ini dipastikan akan memukul sektor transportasi, biaya pengiriman, hingga kenaikan harga barang pokok di pasar domestik Indonesia.
Momentum Gencatan Senjata Dua Minggu
Saat ini, Iran dan AS telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Menurut Aldhaheri, waktu yang singkat ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh komunitas internasional untuk mendorong solusi damai permanen.
UEA bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania konsisten menyuarakan deeskalasi melalui jalur diplomasi. “Kami sangat berharap dalam dua pekan ke depan akan tercapai hasil yang baik demi stabilitas global,” tuturnya.
Sikap UEA: Mengutamakan Diplomasi di Atas Eskalasi
Meskipun wilayah UEA sempat menjadi target serangan, Aldhaheri menyatakan bahwa negaranya memilih untuk tidak melakukan serangan balasan militer. Langkah ini diambil guna mencegah konflik meluas menjadi perang terbuka yang lebih besar.
Pernyataan ini sekaligus membantah tuduhan miring yang menyebut UEA terlibat dalam eskalasi. “Kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, akan tetapi dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik,” jelasnya dengan tegas.
Data Serangan dan Pertahanan UEA
Hingga tanggal 7 April 2026, sistem pertahanan udara UEA mencatat beban kerja yang luar biasa dalam melindungi wilayahnya:
Serangan yang Dicegat: 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.221 drone.
Dampak Sipil: Meski serangan berhasil dicegat, puing-puing senjata yang jatuh di kawasan sipil mengakibatkan 13 warga meninggal dunia dan 217 luka-luka.
Kerusakan Infrastruktur: Fasilitas energi, bandara, dan pelabuhan mengalami kerusakan parsial akibat puing senjata.
Uni Emirat Arab Tetap Aman dan Stabil
Di tengah situasi yang memanas, Dubes Aldhaheri memastikan bahwa kondisi internal UEA tetap stabil dan aman bagi warga negara asing maupun investasi. Sistem pertahanan udara tetap dalam kondisi siaga tertinggi untuk menjamin keamanan infrastruktur vital.
“Uni Emirat Arab tetap aman dan stabil. Institusi kami beroperasi secara penuh, dan lebih dari 200 warga negara asing di sana tetap dalam kondisi harmonis,” pungkasnya.
Konflik di Timur Tengah kini telah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi kantong masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kenaikan harga BBM dan logistik menjadi pengingat bahwa perdamaian di Selat Hormuz adalah kunci stabilitas harga di pasar lokal. (*/tur)



