Kelompok Agama Ajukan Capres Pemilu 2024, IPI: Gejala Munculnya Politik Identitas

Jangan Terjebak Tipu Muslihat Politik Yang Menggunakan Agama Sebagai Jubah
Untuk diketahui, baru-baru ini Forum Ijtima Ulama dan Pemuda Islam Indonesia (PII) se-Jawa Barat (Jabar) mendeklarasikan dukungan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang.
Karyono mengatakan, berkaca pada pengalaman Pilpres 2014 dan 2019, masyarakat jangan lagi sampai terjebak dalam tipu muslihat para petualang politik yang menggunakan agama sebagai jubah. Ada tokoh politik yang menjadikan agama sebagai barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kekuasaan.
Faktanya, selama ini rakyat di rugikan dan kerap menjadi korban dari konflik politik, terutama politik yang menggunakan isu SARA. Pada era post truth, dampak penggunaan isu SARA lebih berbahaya dari isu lainnya. Daya rusaknya lebih dahsyat. Nilai-nilai toleransi dan kebinekaan tergerus. Kohesi sebagai satu bangsa mulai merenggang.
“Oleh karena itu, tokoh yang memiliki hasrat maju sebagai capres-cawapres harus bisa mengendalikan syahwat politik. Untuk tidak melakukan politisasi SARA untuk kepentingan elektoral,” tegas Karyono.
Di tempat lain, Direktur Eksekutif Setara Institute Ismail Hasaini juga mengingatkan tentang bahayanya politik identitas. “Politik identitas adalah kreasi buruk praktik politik yang merusak kualitas demokrasi dan kualitas pemilu,” kata Ismail Hasaini kepada wartawan, Senin (20/12/2021).
Menurut dia, politik identitas tidak berpusat pada ide-ide dan agenda pembangunan yang di perdebatkan secara sehat. Tetapi menggunakan identitas (agama) untuk memunculkan kepatuhan buta dalam menentukan pilihan politik elektoral.(tur)



