BeritaEkonomi BisnisKAWAT DUNIAUtama

Negosiasi Konkret AS-Tiongkok di Jenewa: Redakan Perang Dagang yang Berlangsung Lama

KALTENG.CO-Setelah bertahun-tahun dunia dilanda ketegangan perang dagang yang ditandai dengan tarif tinggi dan gejolak ekonomi global, secercah harapan muncul.

Amerika Serikat dan Tiongkok akhirnya menunjukkan sinyal positif kemajuan dalam upaya meredakan tensi yang telah berlangsung lama ini.

Dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung selama dua hari di Jenewa, Swiss, delegasi dari kedua negara dilaporkan mencapai kesepakatan untuk mengambil langkah-langkah konkret yang bertujuan memperbaiki hubungan dagang yang sempat memburuk.

Dilansir dari laporan Reuters pada Senin (12/5/2025), Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengumumkan bahwa pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah menghasilkan kemajuan yang cukup signifikan.

Kemajuan ini diharapkan dapat menjadi fondasi untuk mengurangi ketegangan perang dagang yang telah memberikan dampak luas bagi perekonomian global.

Meskipun demikian, rincian lengkap mengenai poin-poin kesepakatan yang berhasil dicapai masih dirahasiakan dan dijadwalkan untuk diumumkan secara resmi pada hari Senin (12/5/2025) waktu setempat.

Bessent juga mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menerima laporan menyeluruh mengenai hasil negosiasi yang berlangsung di Jenewa tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa kesepakatan yang tercapai memiliki dukungan dari tingkat tertinggi pemerintahan AS.

Senada dengan Bessent, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga memberikan pandangan optimis terkait hasil pertemuan tersebut. Greer menyebutkan bahwa kesepakatan yang terjalin dengan pihak Tiongkok memiliki potensi besar untuk mengurangi defisit perdagangan barang Amerika Serikat yang saat ini mencapai angka fantastis, yaitu USD 1,2 triliun atau sekitar Rp 19,8 kuadriliun (dengan asumsi kurs Rp 16.520 per USD). Potensi pengurangan defisit ini tentu menjadi angin segar bagi neraca perdagangan AS.

Pertemuan di Jenewa ini memiliki nilai historis tersendiri karena merupakan interaksi langsung pertama antara para pejabat tinggi ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok sejak perang dagang memanas dan berbagai tarif tinggi diberlakukan atas produk-produk dari kedua negara. Pertemuan tatap muka ini menjadi indikasi keseriusan kedua belah pihak untuk mencari solusi diplomatik.

Meskipun mengakui bahwa tarif yang saat ini berlaku antara kedua negara berada pada level yang terlalu tinggi, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, tidak memberikan rincian spesifik mengenai potensi pengurangan tarif dalam kesepakatan yang baru tercapai.

Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, memberikan perspektif tambahan dengan menyebutkan bahwa pihak Tiongkok menunjukkan antusiasme yang besar dalam upaya memperbaiki hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Hassett juga menambahkan bahwa terdapat potensi kesepakatan dagang lainnya yang sedang dalam proses negosiasi dengan negara-negara lain.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan komentar positif mengenai hasil pembicaraan yang berlangsung di Swiss tersebut. Melalui pernyataan resminya, Presiden Trump menggambarkan hasil negosiasi tersebut sebagai sebuah ‘pengaturan ulang total’ yang berjalan dengan baik. Komentar positif dari kepala negara AS ini semakin memperkuat harapan akan adanya perubahan signifikan dalam hubungan dagang kedua negara.

Lokasi pertemuan penting antara delegasi AS dan Tiongkok ini dipilih dengan cermat. Pertemuan berlangsung di sebuah vila yang merupakan properti duta besar Swiss di Jenewa. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada posisi netral Swiss dalam percaturan politik global dan upaya diplomatik yang telah dilakukan Swiss sebelumnya dalam memfasilitasi dialog internasional.

Sebagai latar belakang, Amerika Serikat telah berupaya keras untuk mengurangi defisit perdagangan barang dengan Tiongkok yang mencapai USD 295 miliar atau sekitar Rp 4,8 kuadriliun (dengan asumsi kurs Rp 16.520 per USD).

Selain itu, AS juga mendorong Tiongkok untuk melakukan reformasi ekonomi domestik yang diharapkan dapat lebih berkontribusi pada konsumsi global dan mengurangi ketergantungan pada sistem ekonomi yang terlalu sentralistik. Kesepakatan di Jenewa ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju tercapainya tujuan-tujuan tersebut.

Meskipun rincian kesepakatan masih menunggu pengumuman resmi, sinyal positif dari kedua belah pihak memberikan harapan bahwa perang dagang yang telah merugikan banyak pihak ini akan segera menemukan titik terang.

Dunia kini menanti dengan antisipasi pengumuman resmi yang diharapkan dapat membawa stabilitas dan kepastian baru dalam lanskap perdagangan global. (*/tur)

Related Articles

Back to top button