
Banyak Orangutan Yang Hidup Di Daerah
Yang Juga Ditempati Manusia
Kalau bicara orangutan, mereka hidupnya di hutan. Hampir 70 persen hidup orangutan berada di luar kawasan konservasi yang ditetapkan pemerintah. Habitat hidup mereka berada sekitar 0 – 700 meter di atas permukaan laut.
Banyak orangutan yang hidup di daerah yang juga ditempati manusia. Ketika pembangunan dilakukan, maka konflik dengan orangutan sulit dihindari. Biasanya jika terjadi konflik dengan manusia, orangutan selalu kalah. Mereka kadang bisa dibunuh.
Indonesia mengenal dua kawasan hutan dalam tata ruang, yaitu kawasan budidaya kehutanan dan budidaya non-kehutanan. Ketika kawasan budidaya non-kehutanan dikonversi menjadi peruntukan lain untuk manusia, tetap dianggap sah secara hukum.
Hal itu yang kemudian membuat orangutan kehilangan ruang hidup karena habitat mereka digunakan untuk peruntukan lain. Akibatnya, terjadi penurunan populasi orangutan. Masalah lainnya yang muncul seperti perdagangan ilegal lintas negara serta tren pemeliharaan orangutan di luar negeri.
Seperti apa perdagangan orangutan itu terjadi?
Kami hanya mengetahui saat perdagangan itu telah terjadi. Pada 2006, saat kasus pengembalian 48 orangutan dari Thailand, pemerintah Indonesia membawa mereka pulang kembali ke Indonesia.
Begitu juga dengan orangutan yang ditemukan di Kuwait. Secara kumulatif, BOSF menerima total 54 orangutan hasil repatriasi (yang dibawa pulang dari luar negeri).
Peristiwa perdagangan ilegal ini terjadi lintas negara dan saat ini mayoritas perdagangan dilakukan di wilayah Timur Tengah, walaupun di Thailand juga masih tetap ada.
Anda Tadi Menyebutkan perilaku pemeliharaan orangutan. Bagaimana itu terjadi?
Masih ada pola pikir yang salah di masyarakat, di mana untuk sebagian orang memelihara satwa di lindungi di anggap keren. Seperti harimau di pamerkan melalui media sosial, maupun YouTube. Ada yang pelihara harimau Benggala, walaupun satwa itu tidak di lindungi, masyarakat kita mungkin tidak akan mencari tahu terlebih dahulu jenis harimau itu.
Kalau orang Indonesia melihat itu, ada potensi di tiru untuk dipelihara. Saya pikir tindakan pamer satwa untuk dipelihara menghancurkan kerja-kerja konservasi yang kami dan kawan-kawan lakukan.
Kami mencoba melakukan edukasi agar satwa di lindungi tidak punah, tapi satu sisi selebriti kerap pamer hewan peliharaan mereka. Itu tidak benar. Pelihara satwa liar itu tidak keren.
Bagaimana pola ancaman terhadap ruang hidup orangutan?
Polanya masih sama, meliputi konversi lahan, perdagangan ilegal, dan satwa langka di jadikan peliharaan. Untuk melakukan edukasi dan sosialisasi hukum, kita semua harus bekerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan NGO atau pemerintah saja. Perlu bantuan media, masyarakat, hingga ilmuwan. Bersama-sama melakukan konservasi orangutan.
Upaya apa saja yang BOSF lakukan untuk melestarikan orangutan?
Ketika ada yang melapor, kami bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bergerak bersama menyelamatkan orangutan. Orangutan ini kami rehabilitasi kemudian kami lepasliarkan ke alam bebas.
Kami juga melakukan rehabilitasi lahan dan restorasi lahan gambut yang di buka pada masa Soeharto. Kami melakukan restorasi bekas-bekas hutan yang dulunya habitat hidup orangutan. Tujuannya untuk mengembalikan hutan yang menjadi rumah orangutan.
Selain itu, kami juga punya program BOSF Goes To School. Program ini bertujuan untuk menyampaikan kepada anak-anak sekolah sedini mungkin tentang pentingnya menjaga orangutan. Kelak ketika mereka tumbuh besar menjadi pejabat, pebisnis, atau apa pun pilihan masa depan mereka, mereka lebih sadar tentang keberadaan orangutan.
Sementara itu, kami juga mengajukan lisensi bekas Hutan Produksi (HPH) yang di kenal dengan HPH restorasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk di restorasi.
Prosesnya sama dengan hak pengelolaan hutan (HPH). BOSF melalui Restorasi Hutan Orangutan Indonesia sudah mendapatkan 86.593 ha lahan dan sedang mengajukan izin untuk 50 ribu ha lahan lagi karena area restorasi pertama sudah hampir penuh daya dukungnya untuk orangutan yang sudah di lepasliarkan di sana.
Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah di Kawasan bekas megarice project atau kawasan Mawas. Di sana ada sekitar 2 ribuan orangutan liar yang hidup di kawasan seluas 309.000 ha.
Di kawasan tersebut tidak boleh ada penebangan hutan. Ini bagian dari upaya kami menjaga habitat orangutan. Dari 2012 hingga Juli 2021, kami berhasil melakukan rehabilitasi dan melepasliarkan 485 orangutan.
Berapa populasi orangutan menurut data BOSF hingga saat ini?
Berdasarkan survei yang kami lakukan pada 2016, terdapat kurang lebih 73 ribu orangutan yang tersisa. Pembagiannya 14.290 orangutan di Sumatera, 800 di Tapanuli, dan 57.350 di Kalimantan.
Apa saja tantangan dalam melakukan konservasi orangutan?
Kami masih kesulitan mengedukasi warga. Tantangan lainnya pada pendanaan karena membantu keberlangsungan hidup orangutan tidak mudah dan tidak murah.
Kami juga mencoba mengajak para pengusaha yang mengelola kawasan lahan di Kalimantan untuk bersama-sama melindungi orangutan. Hal ini masih sulit terwujud. Padahal kalau di coba pasti ada jalan untuk bersama melestarikan orangutan.
Anda melakukan konservasi orangutan selama bertahun – tahun. Bisa di jelaskan apa pentingnya orangutan bagi ekosistem hutan?
Pentingnya keberadaan orangutan sudah di akui oleh para peneliti. Orangutan seperti tukang kebun di hutan. Pada siang hari mencari buah untuk dimakan, lalu menyebar bijinya di sembarang tempat. Pada sore dan malam hari, mereka akan membuat sarang.
Orangutan membuka kanopi hutan, sehingga sinar matahari bisa masuk ke hutan dan biji-bijian bisa tumbuh dan berkembang. Proses fotosintesis di kawasan hutan akan berlangsung menjadi lebih baik.
Hutan yang baik akan mengasilkan oksigen, air bersih, hasil hutan kayu dan non-kayu dan berperan dalam pengendalian perubahan iklim.
Siapa yang menerima manfaat ini? Ya, kita juga manusia.Menyelamatkan orangutan di hutan sama dengan menyelamatkan manusia.
Menurut Anda apakah ada upaya serius pemerintah dalam melindungi orangutan?
Bersama pemerintah, BOSF bekerja melindungi orangutan sejak 30 tahun lalu. Kami melakukan kolaborasi. Pemerintah memiliki peran untuk mengeluarkan kebijakan dan aturan.
NGO seperti kami dapat memberikan masukan kepada pemerintah agar tidak melakukan pembangunan atau tidak memberikan izin perkebunan di area yang menjadi habitat orangutan sebagai langkah mitigasi. Menurut undang-undang, orangutan itu milik negara. Jadi, pemerintah punya peran penting.
Borneo Orangutan Survival melakukan kampanye kolaborasi melalui film dokumenter dan podcast. Bisa di jelaskan mengapa menggunakan medium tersebut?
Salah satu komponen penting dalam konservasi adalah komunikasi. Bagaimana pesan konservasi bisa di terima masyarakat umum. Kami menggunakan media podcast untuk menyasar generasi milenial karena ada banyak hal yang tidak tersampaikan jika menggunakan media tradisional.
Kami mempelajari platform media sosial dan menyadari ketertarikan mereka pada podcast, YouTube, dan Instagram. Untuk mensosialisasikan tentang program konservasi BOSF, kami membutuhkan media tersebut. Harapannya, lebih banyak anak muda bisa bergerak bersama untuk menyebarkan informasi tentang orangutan.
BOSF juga kerap mengajak artis untuk ikut kampanye. Apakah hal itu membantu pelestarian orangutan untuk crowdfunding atau dukungan untuk membuat kebijakan baru?.
Awalnya kami memang memiliki duta orangutan. Pada 2010, kami ubah dengan sebutan Campaigner Awareness. Jadi, siapa saja bisa mengkampanyekan kepedulian kepada orangutan.
Satu hal yang selalu kami tekankan ketika artis ikut dalam kegiatan konservasi, orangutan butuh ke-artisan mereka untuk meningkatkan kesadartahuan masyarakat sebagai bagian dari anak bangsa. Untuk itu, kami tidak pernah membayar jasa mereka. Hal ini sebagai upaya untuk mengajak lebih banyak orang konsisten terlibat dalam melestarikan orangutan sesuai kapasitas masing-masing.
Bagaimana melestarikan keberadaan orangutan di Indonesia?
Jaga hutannya, biarkan hutan tetap ada supaya orangutan tetap ada. Jika 100 pebisnis saja yang punya area pengelolaan yang mengkonversi hutan atau yang mengelola hutan mau menyumbang 100 hektar lahan, maka kita bisa pastikan masih ada hutan yang terjaga.
Bicara anak muda, bagaimana mengajak mereka terlibat dalam menjaga hutan dan orangutan?
Kami masuk ke cluster yang mereka pahami. Dulu kami tidak tertarik menggunakan IG live, podcast maupun Tiktok. Kami sadar bahwa kami harus berubah dan mengikuti tren generasi milenial.
Kami mencoba memodifikasi pesan dengan bahasa yang mereka pahami, dengan terus mengkampanyekan pesan bahwa melindungi orangutan di hutan itu keren. Aksi menjaga orangutan itu keren.
Lalu apa saja yang bisa di lakukan anak-anak muda untuk terlibat aksi nyata untuk orangutan?
Pertama, mereka bisa ikut adopsi orangutan dan membantu ketersediaan makanan bagi orangutan. BOSF membuka diri terhadap donasi dan adopsi.
Saat ini ada 9 orangutan yang bisa di adopsi, yaitu Taymur (7 tahun), Jelapat (6 tahun), Monita (3 tahun), Bumi (5 tahun), Mema (6 tahun), Topan (4 tahun), Davi (6 tahun), Kopral (15 tahun), dan Shelton (14 tahun).
Kedua, mereka bisa berpartisipasi hanya dengan menggunakan smartphone untuk kampanye bersama melalui like, share,dan comment.
Kalau cocok dengan program BOSF, mereka bahkan boleh bergabung bersama kami. Tapi, jangan mikir mau kaya jika bergabung dengan BOSF, tapi mau hati gembira.
Menurut Anda, bagaimana masa depan orangutan di Indonesia?
Kalau ada yang beranggapan dalam 10-20 tahun orangutan akan punah, kami justru yakin orangutan masih akan ada bahkan dalam 100 tahun lagi.
Persoalannya, bagaimana habitat mereka dapat terjaga?
Kami berharap orangutan jangan sampai punah. Kita harus sadar bahwa orangutan itu adalah harta kita. Habitat dan orangutan harus kita jaga bersama. Ini tugas kita sebagai anak bangsa.(tur)



