BeritaNASIONALPOLITIKAUtama

Bendera One Piece Vs Ideologi Pancasila: Golkar MPR Soroti Ancaman Ideologi Bangsa

KALTENG.CO Fenomena pengibaran bendera bajak laut dari serial anime populer One Piece di berbagai tempat di Indonesia belakangan ini menjadi sorotan serius.

Fraksi Partai Golkar di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menganggap hal ini sebagai indikasi adanya kemerosotan pemahaman terhadap nilai-nilai dasar bangsa, khususnya ideologi Pancasila.

Wakil Ketua Fraksi Golkar MPR, Firman Soebagyo, menyatakan keprihatinannya atas viralnya foto dan video pengibaran bendera Jolly Roger, simbol bajak laut dalam serial asal Jepang tersebut.

“Mengenai beredarnya bendera ini, memang ini menjadi salah satu keperhatian kami,” kata Firman kepada wartawan, Jumat (1/8/2025).

Arus Budaya Asing dan Tergerusnya Ideologi Negara

Firman menilai, kondisi ini mencerminkan bahwa pemahaman dan pengamalan ideologi negara semakin tergerus di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus budaya asing. Ia menghubungkan hal ini dengan pembahasan Undang-Undang BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), yang menurutnya juga mengindikasikan adanya kemerosotan dalam pemahaman dan pengamalan Pancasila.

“Oleh karena itu, ketika kami membahas Undang-Undang BPIP, itu juga menunjukkan adanya kemerosotan terhadap pemahaman dan pengamalan yang terkait ideologi negara, yaitu Pancasila,” tegasnya.

Peran Teknologi dalam Penyebaran Simbol Asing

Kecanggihan teknologi informasi, menurut Firman, turut berperan besar. Masyarakat, khususnya generasi muda, kini sangat mudah terpapar konten asing yang mengandung simbol-simbol ideologis lain yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai bangsa.

“Oleh karena itu, konsekuensi daripada teknologi yang berkembang sedemikian rupa, memang sangat mudah seseorang memprovokasi melalui informasi teknologi yang ada,” ujarnya.

Mendesak Penguatan dan Pendidikan Pancasila Sejak Dini

Menyikapi tantangan ini, Firman menegaskan bahwa penguatan pemahaman ideologi Pancasila harus terus di lakukan secara adaptif dan kreatif agar lebih mudah di terima di kalangan muda. Ini menjadi tugas penting bagi BPIP dan MPR sendiri.

“Oleh karena itu, inilah tugas daripada BPIP dan tugas kami juga di MPR. Kami sedang melakukan kajian-kajian juga, penguatan terhadap pemahaman ideologi dan pengamalannya itu terus di lakukan penguatan dengan modifikasi-modifikasi dengan cara-cara yang lebih mudah di terima,” tuturnya.

Lebih lanjut, Firman mendorong pentingnya pendidikan ideologi sejak usia dini. Ia berharap pendidikan moral Pancasila dapat kembali di galakkan di tingkat sekolah dasar (SD), menengah pertama (SMP), hingga menengah atas (SMA), sehingga nilai-nilai Pancasila dapat tertanam kuat dalam karakter generasi bangsa.

“Katakanlah memberikan pendidikan sejak dini, pendidikan moral Pancasila, itu di lakukan lagi di tingkat-tingkat SD, SMP, sampai SMA, itu di lakukan lagi,” pungkasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa akan pentingnya menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah gempuran budaya global. (*/tur)

EDITOR: TOPAN

Related Articles

Back to top button