Sambil Menangis, Agus Prabowo Yesto Bantah Isu “Masuk Angin” Soal Pembatalan Aksi Penambang Kalteng

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Dinamika perjuangan para penambang di Kalimantan Tengah (Kalteng) memanas, namun kali ini bukan di lapangan, melainkan di ranah internal.
Koordinator Aksi Penambang Kalteng, Agus Prabowo Yesto, secara terbuka mengungkapkan rasa kekecewaan dan keprihatinannya setelah dituding “masuk angin” oleh sejumlah pihak.
Tudingan ini muncul usai dirinya memutuskan untuk menunda atau membatalkan aksi massa yang sedianya digelar di Mapolda Kalteng dan Kantor DPRD Kalteng pada 25-26 Maret 2026 mendatang.
Penuh Haru, Esto Prabowo Bantah Khianati Aspirasi Penambang
Melalui sebuah unggahan video yang viral di akun TikTok (https://vt.tiktok.com/ZSuaur7pF/), Esto tampak tidak kuasa menahan kesedihan. Sambil menangis, ia menyampaikan bahwa tuduhan tersebut sangat menyakitkan, mengingat dedikasinya selama ini dalam menyuarakan hak-hak para penambang rakyat di Bumi Tambun Bungai.
Istilah “masuk angin” sering digunakan di kalangan aktivis untuk menggambarkan seseorang yang telah disuap atau ditekan oleh pihak tertentu agar melemahkan perjuangan. Esto secara tegas membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa keputusan penundaan aksi diambil berdasarkan pertimbangan strategi dan situasi di lapangan.
“Saya merasa sangat kecewa dengan masyarakat yang menyebut saya ‘masuk angin’ hanya karena meminta aksi di Mapolda dan DPRD Kalteng ditunda,” ungkapnya dalam video tersebut.
Kecewa Berat, Esto Ancam Mundur dari Perjuangan
Kekecewaan yang mendalam ini membuat Esto mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan para pengikutnya. Ia mengancam tidak akan lagi terlibat dalam membantu para penambang untuk menyampaikan aspirasi mereka ke tingkat pemerintah maupun aparat penegak hukum.
Hal ini tentu menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan gerakan penambang, mengingat Esto merupakan salah satu tokoh sentral dalam mengoordinasi massa. Ia bahkan mengisyaratkan ketidakhadirannya pada acara Konsolidasi Besar yang dijadwalkan pada 30 Maret 2026.
“Jika perjuangan dan niat tulus saya masih dipandang negatif, lebih baik saya berhenti. Saya tidak akan lagi membantu menyampaikan aspirasi, termasuk pada agenda konsolidasi 30 Maret nanti,” tegasnya.
Dampak Terhadap Agenda Penambang Kalteng
Polemik ini muncul di tengah upaya para penambang rakyat yang sedang menuntut legalitas dan keadilan tata kelola pertambangan di Kalteng. Penundaan aksi di Mapolda dan DPRD Kalteng pada 25-26 Maret sebenarnya merupakan momen krusial untuk mendapatkan kepastian hukum.
Dengan adanya konflik internal dan ancaman mundurnya sang koordinator aksi, banyak pihak khawatir fokus perjuangan akan terpecah. Konsolidasi pada 30 Maret yang diharapkan menjadi wadah penyatuan suara kini berada dalam ketidakpastian.
Pentingnya Solidaritas di Tengah Perjuangan
Kasus ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya kepercayaan dan solidaritas dalam sebuah gerakan massa. Tudingan tanpa bukti kuat terhadap pemimpin gerakan seringkali menjadi senjata bagi pihak luar untuk memecah belah persatuan dari dalam.
Hingga berita ini diturunkan, berbagai dukungan dari rekan-rekan sesama aktivis dan penambang mulai mengalir untuk Agus Prabowo Yesto, meminta agar ia mengurungkan niatnya untuk mundur demi kepentingan kolektif masyarakat penambang Kalimantan Tengah. (*/tur)



