Sehari Siapkan Belasan Peti Mati

Yosi menjelaskan, harga jual satu peti mati berkisar Rp2-5 juta, tergantung jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan peti mati.
Pembuatan peti mati bagi warga meninggal dunia normal (bukan karena terpapar Covid-19) biasanya menggunakan kayu jenis benuas yang harganya cukup mahal. “Ini kayu yang kuat dan bagus, memang berat saat mengangkatnya,” kata Yosi sembari tersenyum.
Dia menyebut, berat peti mati berbahan kayu benuas bisa mencapai 150 kg. Ia menambahkan, sebelum pendemi terjadi, pihaknya selalu menyiapkan 150 peti mati untuk stok jangka panjang dan disimpan di gudang.
Yosi menjelaskan, stok itu sengaja disiapkan untuk digunakan sewaktu-waktu di saat darurat seperti peristiwa kecelakaan atau bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa.
“Itu memang ready stoknya, disiapkan kalau tiba-tiba ada bencana seperti ada pesawat jatuh atau kejadian bencana alam,” terangnya.
Namun sejak pandemi melanda Kota Cantik, banyak permintaan dari rumah sakit untuk menyiapkan peti mati bagi pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Dengan melonjaknya korban Covid-19, stok peti mati di gudang sempat ditingkatkan menjadi 200 peti.
“Tapi jumlah peti mati sekarang sudah berkurang, yang ada cuman 15 peti,” ungkapnya.
Yosi mengaku banyak orang yang mengira bahwa selama pandemi ini usaha pembuatan peti mati yang dikelolanya memperoleh untung besar karena kebanjiran pesanan. Secara tegas ia membantah.
Sebab, karena menipisnya stok peti mati yang disiapkan untuk jenazah pasien Covid-19 di gudangnya, akhirnya menggunakan peti mati yang semestinya bukan digunakan untuk jenazah pasien Covid-19 yang harganya jauh lebih mahal. Hal itu dilakukannya karena rasa kemanusiaan.



