Setelah Meta dan Apple, Kini Giliran Google Gemini yang Tersandung Kasus Hak Cipta

KALTENG.CO-Industri kecerdasan buatan (AI) kembali diguncang oleh isu pelanggaran hak cipta berskala besar. Kali ini, raksasa teknologi Google resmi menghadapi gugatan class action kelompok yang diajukan oleh tiga penerbit raksasa dunia—Hachette Book Group, Cengage Learning, dan Elsevier—bersama penulis ternama, Scott Turow.
Google dituduh telah menggunakan jutaan karya berhak cipta secara ilegal untuk melatih model bahasa besar (Large Language Model) andalan mereka, Gemini.
Sengaja Menyalin Jutaan Karya Tanpa Izin dan Kompensasi
Melansir laporan dari Engadget, para penggugat menegaskan bahwa Google telah memanfaatkan buku, artikel, dan materi akademis berhak cipta tanpa pernah meminta izin, apalagi memberikan kompensasi finansial kepada para pencipta dan pemilik hak yang sah.
Dalam dokumen gugatan yang diajukan ke pengadilan, tindakan Google disebut sebagai bentuk pelanggaran yang disengaja.
“Google mereproduksi jutaan karya berhak cipta tanpa izin, tanpa memberikan kompensasi kepada penulis atau penerbit, dan dengan pengetahuan penuh bahwa tindakannya melanggar hukum hak cipta,” bunyi penggalan dokumen gugatan tersebut.
Modus Menghapus Informasi Hak Cipta (CMI)
Tak hanya sekadar mengambil data, para penggugat juga menuding Google melakukan tindakan manipulatif dengan menghapus Copyright Management Information (CMI) atau informasi pengelolaan hak cipta dari karya-karya yang mereka sedot.
Langkah ini diduga kuat sengaja dilakukan untuk menyamarkan asal-usul materi pelatihan, sekaligus mempermudah sistem AI menggunakan karya tersebut tanpa terdeteksi oleh pemilik hak.
Gemini Mampu Hasilkan Konten Tiruan yang Merugikan Penulis
Fokus gugatan ini tidak hanya mandek pada proses training atau pelatihan AI di balik layar, tetapi juga dampak output yang dihasilkan oleh Gemini. Para penggugat menyoroti kemampuan Gemini yang dinilai terlalu mahir dalam meniru gaya, struktur, dan konten dari karya asli para penulis.
Kemampuan ini dikhawatirkan dapat menciptakan karya tiruan di pasar komersial tanpa adanya atribusi maupun royalti bagi penulis aslinya. Hal ini jelas mengancam mata pencaharian para pekerja kreatif dan industri penerbitan.
“Google juga mengetahui bahwa tanpa pengamanan yang tepat, Gemini akan terus menghasilkan output yang menggantikan karya berhak cipta yang digunakan untuk melatihnya. Namun Google gagal menerapkan pengamanan yang efektif,” tambah pihak penggugat.
Gelombang Perlawanan Industri Kreatif Terhadap Raksasa AI
Perseteruan hukum antara industri penerbitan dan perusahaan teknologi pengembang AI bukanlah cerita baru. Selama beberapa tahun terakhir, para penulis dan penerbit terus bergerak, baik lewat jalur hukum maupun meja negosiasi, untuk melindungi kekayaan intelektual mereka.
Faktanya, Google bukanlah target pertama. Beberapa poin penting di bawah ini menunjukkan betapa sengitnya konflik hak cipta AI di meja hijau:
Meta & Apple: Pihak penerbit yang kini menggugat Google sebelumnya juga telah melayangkan tuntutan serupa terhadap Meta. Di sisi lain, Apple juga menghadapi tekanan hukum dari para penulis atas dugaan eksploitasi karya tanpa izin untuk data pelatihan AI mereka.
Kasus Anthropic: Pada tahun 2025, sekelompok penulis sempat hampir mencapai kesepakatan damai bernilai fantastis, yakni sebesar USD 1,5 miliar, dengan Anthropic terkait pelanggaran hak cipta pada chatbot Claude. Sayangnya, penyelesaian awal ini akhirnya ditolak oleh hakim karena dinilai belum memenuhi syarat hukum yang adil.
Hingga saat ini, sebagian besar gugatan hak cipta terkait AI masih menemui jalan terjal dan belum menghasilkan keputusan inkrah yang menjadi standar industri.
Tantangan Hukum Terbesar di Era AI
Kasus yang menimpa Google Gemini ini semakin menegaskan bahwa regulasi mengenai data scraping dan pemanfaatan kekayaan intelektual untuk kecerdasan buatan masih menjadi area abu-abu yang krusih. Gelombang gugatan class action yang terus berdatangan menunjukkan bahwa industri kreatif tidak akan tinggal diam ketika karya mereka “dilahap” demi keuntungan komersial perusahaan teknologi.
Bagaimana akhir dari persidangan ini akan menjadi penentu penting bagi masa depan hak cipta dan perkembangan teknologi AI global secara keseluruhan. (*/tur)



