
KALTENG.CO-Kabar baik bagi para pemilik kendaraan bermotor di Indonesia. Memasuki periode terbaru tahun 2026, sejumlah badan usaha penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) swasta maupun pelat merah kompak melakukan penyesuaian harga. Tidak tanggung-tanggung, tren kali ini didominasi oleh penurunan harga yang cukup signifikan, terutama pada jenis BBM nonsubsidi dan varian diesel kelas atas.
Langkah ini diambil oleh para raksasa retail minyak seperti PT Pertamina Patra Niaga, Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo Energy Indonesia, hingga Mobil Indostation. Lantas, produk apa saja yang mengalami pemotongan harga paling besar? Berikut rincian lengkapnya.
Pertamina Pimpin Penurunan Harga Varian Varian Dex dan Turbo
Sebagai pemain utama, PT Pertamina Patra Niaga melakukan gebrakan dengan memangkas harga tiga produk nonsubsidi unggulannya secara drastis, khususnya pada lini bahan bakar diesel premium.
Pertamax Turbo (RON 98): Turun sebesar Rp 1.450 per liter, dari harga semula Rp 20.750 kini menjadi Rp 19.300 per liter.
Pertamina Dex (CN 53): Mengalami penurunan paling tajam, yaitu sebesar Rp 3.650 per liter. Dari yang sebelumnya Rp 24.800, kini turun menjadi Rp 21.150 per liter.
Dexlite (CN 51): Turun Rp 3.300 per liter, membuat harganya bergeser dari Rp 23.000 ke angka Rp 19.700 per liter.
Sementara itu, untuk Anda pengguna setia Pertamax 92 dan Pertamax Green 95, harga terpantau stabil. Pertamax 92 tetap dipatok pada harga Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 kokoh di angka Rp 17.000 per liter sejak penyesuaian terakhir pada 10 Juni 2026.
Perbandingan Harga di SPBU Swasta: Shell, BP-AKR, Vivo, dan Mobil Indostation
Langkah Pertamina memicu persaingan ketat di sektor swasta. Menariknya, untuk varian diesel premium, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta kompak menetapkan angka yang seragam.
1. BP-AKR
BP-AKR memotong harga bahan bakar diesel andalannya secara masif. BP Ultimate Diesel yang sebelumnya bertengger di angka Rp 25.060 kini merosot tajam menjadi Rp 21.340 per liter. Kendati demikian, varian bensin seperti BP 92 (Rp 16.670/liter) dan BP Ultimate (Rp 17.240/liter) tidak mengalami perubahan.
2. Shell Indonesia
Sama halnya dengan kompetitor, Shell Indonesia mengoreksi harga Shell V-Power Diesel menjadi Rp 21.340 per liter dari yang sebelumnya menembus Rp 24.490 per liter.
3. Vivo Energy Indonesia
Vivo juga menyamakan posisinya di segmen diesel dengan menjual Vivo Diesel Primus seharga Rp 21.340 per liter. Sementara untuk varian bensin, Vivo Revvo 92 dibanderol Rp 16.670 per liter dan Vivo Revvo 95 dijual seharga Rp 17.240 per liter.
4. Mobil Indostation
Bagi pengendara yang kerap memanfaatkan jaringan Mobil Indostation, harga untuk produk Gasoline 92 ditetapkan stabil bersaing di angka Rp 16.670 per liter.
Tabel Ringkasan Harga BBM Terbaru Seluruh Operator
Untuk memudahkan Anda membandingkan, berikut adalah daftar harga BBM nonsubsidi terbaru di Indonesia:
| Operator | Jenis BBM | Harga per Liter | Status |
| Pertamina | Pertamax 92
Pertamax Green 95
Pertamax Turbo
Dexlite
Pertamina Dex | Rp 16.250
Rp 17.000
Rp 19.300
Rp 19.700
Rp 21.150 | Tetap
Tetap
Turun
Turun
Turun |
| BP-AKR | BP 92
BP Ultimate
BP Ultimate Diesel | Rp 16.670
Rp 17.240
Rp 21.340 | Tetap
Tetap
Turun |
| Shell | Shell V-Power Diesel | Rp 21.340 | Turun |
| Vivo | Revvo 92
Revvo 95
Diesel Primus | Rp 16.670
Rp 17.240
Rp 21.340 | Tetap
Tetap
Turun |
| Mobil Indostation | Gasoline 92 | Rp 16.670 | Tetap |
Catatan: Untuk produk Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+, daftar harga terbaru belum tercantum secara resmi dan kemungkinan menyusul dalam waktu dekat.
Apa Penyebab Harga BBM Nonsubsidi Turun Berjamaah?
Penurunan harga yang kompak ini tentu bukan tanpa alasan. Berbeda dengan BBM subsidi (seperti Pertalite dan Solar) yang harganya dikunci oleh pemerintah, harga BBM nonsubsidi bersifat fluktuatif mengikuti mekanisme pasar global.
Secara umum, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi kebijakan korporasi dalam menetapkan harga baru ini:
Dinamika Harga Minyak Mentah Dunia: Pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional (seperti Brent atau WTI) sedang mengalami tren yang memungkinkan ruang penurunan harga retail.
Aspek Fiskal Pemerintah: Kebijakan pajak dan formulasi perhitungan harga dasar BBM dari Kementerian ESDM.
Daya Beli Masyarakat: Penyesuaian dilakukan agar harga tetap kompetitif dan dapat dijangkau oleh target pasar kelas menengah ke atas.
Kondisi Perekonomian Nasional: Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut andil dalam menekan biaya impor bahan baku minyak.
Dengan adanya penurunan harga ini, diharapkan dapat memberikan stimulus positif bagi sektor logistik dan transportasi, serta meringankan beban operasional para pengguna kendaraan bermesin diesel modern dan mobil performa tinggi di Indonesia. (*/tur)



