Keteguhan Hati Denada Memilih Pertahankan Buah Hati Meski Tanpa Tanggung Jawab Lelaki

KALTENG.CO-Penyanyi Denada baru-baru ini membagikan kisah personal yang mendalam mengenai perjalanan hidupnya di usia 20-an.
Di tengah karier musiknya yang sedang menanjak, Denada harus menghadapi kenyataan sulit saat mendapati dirinya hamil di luar nikah.
Meski berada dalam situasi yang penuh tekanan, Denada menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa. Ia secara tegas memilih untuk mempertahankan kandungannya, meskipun ayah biologis dari anak tersebut tidak bersedia bertanggung jawab.
Kejujuran kepada Sang Ibunda, Emilia Contessa
Pada awalnya, Denada sempat merahasiakan kehamilannya. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan fisik tidak bisa lagi disembunyikan dari sang ibu, Emilia Contessa. Alih-alih mendapatkan penghakiman, Denada justru mendapatkan pendampingan penuh dari ibundanya.
“Aku mengakui ada perasaan takut saat itu. Hamil di luar nikah dipandang sebagai bencana dan aib besar,” ungkap Denada mengenang memori pahit tersebut.
Rencana Masa Depan untuk Sang Buah Hati
Dalam masa-masa penuh kekhawatiran itu, Emilia Contessa melontarkan sebuah wacana demi kebaikan masa depan sang cucu. Ia mengusulkan agar anak yang dikandung Denada—yang kemudian diberi nama Ressa—diasuh oleh bibi Denada, Ratih Puspita Dewi, dan suaminya, Dino Rossano.
Pertimbangan utama di balik rencana ini adalah:
Keluarga yang Lengkap: Ratih dan Dino saat itu sangat merindukan kehadiran anak laki-laki.
Lingkungan yang Kondusif: Ressa akan dibesarkan di Banyuwangi, dikelilingi oleh keluarga besar yang suportif.
Pengawasan Keluarga: Emilia Contessa dan sang nenek (Eyang Putri) juga tinggal di sana, sehingga pertumbuhan Ressa tetap terpantau dengan penuh kasih sayang.
Keputusan Sulit Demi Kasih Sayang yang Utuh
Denada menyetujui usulan tersebut dengan hati lapang. Baginya, melihat Ressa tumbuh di tengah keluarga yang merindukannya jauh lebih penting daripada ego pribadinya. Saat Ressa baru berusia 10 hari, ia resmi dibawa ke Banyuwangi untuk diasuh oleh Ratih dan Dino.
“Bayangan aku saat itu, Ressa akan memiliki keluarga dekat yang mencintainya. Tidak akan ada yang berani merundung (bully) atau macam-macam kepadanya karena semua orang menyayanginya,” tutur Denada penuh haru.
Denada merasa tenang karena di Banyuwangi, sosok ibunya dan Eyang Putri—yang sangat dihormati di keluarga—menjadi pelindung utama bagi Ressa. Langkah ini diambil bukan untuk menelantarkan, melainkan sebagai jalan terbaik agar sang anak mendapatkan limpahan cinta dan perlindungan yang maksimal.
Belajar dari Ketegaran
Kisah Denada memberikan perspektif tentang tanggung jawab dan pengorbanan seorang ibu. Di balik statusnya sebagai figur publik, ia memilih jalan yang sulit demi memastikan sang anak tumbuh di lingkungan yang stabil dan penuh cinta. (*/tur)



