
Akhirnya Donwori memilih kerja serabutan. Maksudnya, tidak di sebuah perusahaan dengan gaji rutin tiap bulan. “Ya kerja apa saja. Yang penting ada yang minta jasa saya,” akunya.
Misalnya, ada tetangga yang mau ke luar kota, Donwori bisa nyopiri. Atau kalau ada kenalan yang bikin hajatan, Donwori diminta bantu. “Istilahnya kerja serabutan,” tegasnya.
Upah yang diterima dari kerja serabutan tentu saja jauh beda dengan gaji yang ia terima ketika bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Jauh sekali, bagai gajinya cleaning service dengan manager. “Nah, persoalan muncul karena pekerjaan serabutan itu,” ungkapnya.
Rupanya Karin tak tahan dengan cara kerja Donwori. Terutama soal upah yang diterima. “Gak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.
Sejak saat itu Karin menjadi sering uring-uringan. Gampang sekali marah. Kena persoalan kecil saja, sudah langsung muntab. “Kalau marah, dia sering minggat meninggalkan rumah. Nggak pamit. Kadang ke tempat saudaranya, temannya atau pulang ke rumah orang tuanya,” beber Donwori.



