BeritaNASIONALPENDIDIKAN

Transformasi Pendidikan Indonesia: Dari Menghafal Menuju Kolaborasi dengan AI

KALTENG.CO-Pendidikan di Indonesia tengah memasuki era baru. Lebih dari 300 pendidik dari berbagai penjuru negeri berkumpul secara daring dan luring untuk mengikuti pelatihan bersertifikat

“Pendidikan Berbasis Human-AI Collaboration”. Pelatihan ini tidak hanya sekadar acara, tetapi juga menjadi momentum penting dengan diresmikannya Indonesia Development of Education and AI (IDEA).

IDEA didirikan sebagai wadah kolaborasi berkelanjutan bagi para pendidik untuk saling berbagi praktik terbaik, menyelenggarakan workshop berkala, mengembangkan microteaching, dan merumuskan etika pemanfaatan AI di sekolah. Ini adalah langkah maju yang menunjukkan komitmen kuat para pendidik dalam beradaptasi dengan teknologi.

Pergeseran Paradigma Pendidikan di Era “AI First”

Kepala BSKAP Kemendikdasmen RI, Toni Toharudin, menegaskan bahwa orientasi pendidikan kini bergeser dari sekadar menghafal menjadi mengorkestrasi kolaborasi antara manusia dan AI. Dalam paradigma ini, guru berperan sebagai arsitek pembelajaran. Tugas mereka adalah merancang pengalaman belajar yang menumbuhkan pemikiran kritis, kreativitas, dan kesadaran etis.

Toni mendorong implementasi kurikulum dan asesmen yang fokus pada penalaran, literasi data, dan tanggung jawab etis. Sementara itu, sekolah diharapkan menciptakan budaya inovasi yang aman dan inklusif. Tujuannya jelas: teknologi harus menjadi alat yang memperkuat misi kemanusiaan pendidikan, bukan menjadi tujuan itu sendiri.

AI: Bukan Pengganti, tapi Kolaborator Manusia

Praktisi AI, Timothy Dillan, menjelaskan bahwa di era “AI first” seperti sekarang, standar baru adalah produktivitas yang meningkat pesat. Namun, ia menekankan, “Bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan manusia yang memanfaatkan AI.”

Menurut Timothy, AI memiliki dua kemampuan inti, yaitu pengenalan pola dan daya ingat yang luar biasa. Kedua kemampuan ini sangat kuat, tetapi sifatnya pasif. Oleh karena itu, peran manusia sangat krusial untuk memberikan konteks, niat, dan arah.

Senada dengan itu, Wakil Rektor I Universitas Bali Dwipa, Lidia Sandra, menyatakan bahwa teknologi seharusnya membebaskan guru dan pelajar dari tugas-tugas rutin, menuju level berpikir yang lebih tinggi. Dengan AI, mereka bisa fokus pada kreativitas dan memetik hikmah dari proses belajar.

Lidia mengajak seluruh ekosistem pendidikan untuk menggunakan AI secara bijak dan sadar. Ia juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan penggunaan AI dengan latihan kognitif tanpa bantuan AI, agar nalar dan kemampuan berpikir manusia tetap terasah.

Sheena Abigail, Vice Principal CH School, menambahkan bahwa lahirnya IDEA sebagai komunitas praktik akan memastikan pelatihan ini tidak berhenti pada transfer wawasan di ruang konferensi.

Sebaliknya, ini akan menjadi sebuah gerakan nyata yang menyediakan mentor, helpdesk antar-guru, dan standar etika yang bisa diadopsi oleh berbagai sekolah. (*/tur)

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button