METROPOLIS

Masyarakat Adat Dayak Desa Parahangan Gelar Mampakanan Sahur Lewu

Pada malam harinya, ritual dilanjutkan dengan pawai di sepanjang jalan desa dan di tepian Sungai Kahayan dipimpin oleh para basir. Ritual ini disebut mamapas lewu, yang merupakan bagian dari sahur lewu. Setelah itu, rombongan berhenti sejenak di tepi Sungai Kahayan untuk menggelar doa dan melarung beberapa simbol ritus ke sungai.

Salah satu doa dalam Bahasa Sangiang yang dipanjatkan oleh basir saat di sungai, yaitu “Pukung Pahewan” yang diartikan sebagai “hutan lindung”, memiliki arti yang sangat lekat dengan menjaga kelestarian alam dan seisinya.

https://kalteng.co

“Dengan Mamapas Lewu ini kami berharap desa ini akan terhindar dari hal-hal negatif, seperti wabah penyakit, bencana alam, serta gangguan-gangguan lainnya, baik yang nampak maupun gangguan dari roh halus yang bersifat negatif,” tutur Rabiadi, basir utama yang memimpin jalannya ritual mampakanan sahur lewu dan mamapas lewu.

Sementara itu, Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Borneo Nature Foundation (BNF) Indonesia, Yuliana Nona, yang turut hadir di acara ritual menyatakan sangat mengapresiasi ritual ini. Spirit yang dihadirkan ritual sahur lewu ini sejalan dengan program pendampingan masyarakat yang dilaksanakan oleh BNF di Desa Parahangan.

Sahur Lewu dimulai pada sore hari, Jumat (8/10/2021) di Rumah Ibadah Kaharingan Desa Parahangan. Empat orang pemimpin ritual atau basir duduk di depan altar sambil mengucapkan mantra dan doa secara bersahutan diiringi tetabuhan ritmik katambung, sebuah alat musik sejenis gendang yang terbuat dari kulit biawak.

“Kami saat ini sedang mendampingi warga Parahangan dalam menjalankan perhutanan sosial. Kami mendampingi masyarakat mengelola hutan desanya agar lestari dan terjaga, serta dapat menjalankan kegiatan ekonomi produktif yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Upaya ini sejalan dengan semangat yang hendak dihadirkan melalui ritual sahur lewu ini,” tandas Nona. (ram)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button